Senin, 12 Juli 2021

Smartphone Movement: Sebuah Metode Dekolonisasi oleh Pemuda Adat

 


Smartphone Movement merupakan sebuah gerakan kultural yang dilakukan oleh generasi muda untuk menjaga tanah adatnya. Gerakan ini dimulai dari kampung di Minahasa, oleh beberapa pemuda adat Minahasa, sebagai bentuk tanggung jawab kultural dari generasi yang sadar akan manfaat teknologi bagi orang banyak dan generasi berikutnya.

Disebut sebagai sebuah gerakan karena kesadaran akan efektifnya menggunakan smartphone sebagai upaya untuk menjaga tanah adat dilakukan oleh banyak orang. Kesadaran ini dimiliki oleh banyak pemuda adat di kampung-kampung.

Smartphone digunakan sebagai media untuk mendokumentasikan, menyebarkan informasi, membuat karya (tulisan, film dan grafis) dan berinteraksi dengan banyak orang dimana saja, kapan saja secara real-time. Ini juga didukung dengan fitur dan manfaat Media Sosial yang begitu besar.

Di Minahasa, Smartphone Movement mewujud pada optimalisasi penggunaan smartphone. Sebab Smartphone bisa digunakan untuk menulis (reportase, essay, status di medsos), mengambil foto, membuat gambar/grafis (meme/infografis, logo, pamflet, dan karya grafis lain) dan membuat film (merekam/mengedit/menyebarluaskan), serta berkomunikasi dalam bahasa daerah via samrtphone secara intensif.

Di Minahasa, Dua hal yang paling banyak dilakukan dengan Smartphone Movement yaitu Menulis dan Membuat Film. Namun pelatihan mengambil gambar (fotografi) dan membuat karya Grafis di Smartphone juga dilakukan.

  • Menulis
Di Minahasa, pelatihan menulis dilakukan oleh komunitas penulis ataupun komunitas seni/budaya ke kampung-kampung di Minahasa. Para pesertanya pemuda kampung, dengan menggunakan smartphone.
Peserta mewawancarai, mengambil gambar, dan menulis di Smartphone. Setelah tulisan selesai, dibahas/diskusikan di dalam grup WA/FB. Atau langsung di-posting di media sosial untuk disebarluaskan.
  • Membuat Film
Spesifikasi Smartphone yang beredar sekarang ini sudah mumpuni untuk membuat sebuah video ataupun film pendek. Di samping harganya yang murah, pilihan smartphone pun begitu banyak.
Ini membuat banyak orang muda memilih smartphone untuk multimedia. Salah satunya membuat film. Di kampung-kampung di Minahasa, banyak pemuda yang tertarik membuat film dengan. Smartphone. Mereka membuat film pendek lucu, kegiatan seni-budaya dan film singkat tentang kampung lewat smartphone. Aplikasi untuk membuat film di Smartphone, sangat mudah didapatkan. Ada yang gratis.dan berbayar. Semua dapat diunduh.
Membuat film dengan Smartphone (Smartphone Cinematography), juga yang menjadi cikal bakal lahirnya Smartphone Movement. Dibuat lewat Smartphone artinya gambar video direkam, diedit dan diposting serta disebarluaskan di Medsos lewat Smartphone. Ukuran video/film yang dibuat di Smartphone biasanya berukuran kecil tapi kualitas gambar bagus, sehingga tidak terlalu memakan kuota internet bila diupload. Dibandingkan dengan yang dibuat di komputer. Selain itu, karena dibuat di Smartphone, durasi video/film relatif singkat. Ini membuat ketika diupload, orang akan tertarik menontonnya karena pertimbangan kuota internet. Manfaat lainnya, video/film yang dibuat bisa langsung diupload atau dibagikan, tanpa perlu transfer yang kadang rumit. Misalnya apabila video/film dibuat di komputer.

  • Video Berita

Selain film, karya lain yang bisa dibuat yaitu video. Banyak ragam video yang bisa dibuat, salah satunya video berita. Hari ini dengan adanya smartphone dan internet, semua orang bisa menjadi jurnalis atau pewarta berita. Sosial Media menjadi medium yang tepat untuk menyampaikan informasi. Banyak media online kemudian melakukan hal yang sama, melakukan terobosan dalam penyajian berita. Berita video dipilih sebagai bentuknya. News Video atau video berita, dahulu hanya dapat disaksikan di layar televisi (tv) dan disiarkan oleh stasiun tv saja. Hari ini peran itu juga sudah mulai diambil oleh koran online atau media online. Kini, perkembangan teknologi, memungkinan siapa saja, tidak hanya stasiun tv dan media online, untuk menjadi pewarta video. Membuat video berita. Lewat smartphone orang bisa membuat video berita yang berisi acara, reportase kegiatan di kampung, dan lainsebagainya.

  • Mengambil foto
Kamera di smartphone memungkinkan semua orang menjadi fotografer. Mengabadikan momen, orang dan kisah dalam foto. Termasuk mendokumentasikan kegiatan bertema seni, budaya, tradisi. Bisa pula mengabadikan landscape alam dan potret tentnag kampung.
Cara ini digunakan orang mmuda adat untuk mendokumentasikan acara, moment, situs, ritus, adat dan budayanya.
  • Membuat Karya Grafis
Hari ini platform smartphone mengadirkan berbagai aplikasi pengolah grafis. Baik gratis maupun berbayar. Baik offline maupun online. Banyak orang menggunakan kemudahan ini untuk membuat karya grafis seperti flyer, pamflet, leaflet, Meme, editing foto, poster, dan lain sebagainya.
Kegiatan di kampung dipublikasikan lewat pamflet digital yang dibuat di smartphone.
  • Komunikasi dalam bahasa daerah
Beragam macam jenis medsos dicipta. Membuat orang makin suka menjalin komunikasi. Voice call/video call atau sekedar chating biasa menjadi pilihan. Medium Komunikasi jenis ini juga dijadikan ruang belajar oleh para orang muda, pemuda adat saling belajar-belajr kembali bahasa bahasa daerahnya.
  • Sumber Pengetahuan / Sekolah / Universitas
Smartphone, hari ini tidak lagi hanya dipahami sebagai alat komunikasi. Ketika ia mendapatkan internet sebagau ruh-nya, ia menjadi semakin powerfull. Dari smartphone, orang mampu mencari apapun informasi ataupun pengetahuan yang ia inginkan. Internet memungkinkan itu terjadi. Sehingga smartphone manjadi wadah baru untuk berlajar dan bersekolah. Ia menjadi sumber pengetahuan yang bisa digengam.

Karya-karya, baik tulisan, grafis, foto maupun film, memberikan pengaruh besar bagi kebudayaan Minahasa. Banyak orang terpengaruh dan terinspirasi lewat karya yang dibuat lewat smartphone.
Oleh karena banyak orang yang memilih menggunakan smartphone, maka ini bisa disebut sebagai gerakan. Ketika smartphone digunakan secara kreatif dan dilakukan oleh banyak orang maka gerakan Membangun dan menjaga Tanah-Adat semakin efektif. Inilah Smartphone Movement. Mengoptimalkan smartphone untuk saling belajar dan saling menginspirasi.

Pada dasarnya, gagasan tentang Smartphone Movement lahir di kampung, oleh orang muda, pemuda adat Minahasa. Mereka menggunakan smartphone untuk membangun dan menjaga kampungnya. Mereka membuat film, foto, video berita dan karya grafis tentang kebudayaan Minahasa, tentang kegiatan-kegiatan mereka seperti berkebun, berburu, berkesnian, menelusuri jejak leluhur, dan banyak lagi hal lain. 

Gagasan dan spirit ini yang kemudian membuat smartphone movement cepat bersentuhan dengan perjuangan pemuda adat di nusantara. Mereka punya roh perjuangan yang sama. Pulang kampung, membangun kampung, mengurus wilayah adat. Visi ini, kemudian membuat Smartphone movement bisa bersentuhan langsung dengan gerakan pemuda adat di nusantara yaitu Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).

Dengan smartphone pemuda adat bisa menghasilkan cerita mereka sendiri dan informasi terkini tentang komunitas adat kepada dunia. Pemuda adat juga bisa mengontrol pesan yang ingin disampaikan. Dengan kerja dokumentasi melalui smartphone, pemuda adat juga bisa langsung memverifikasi dan memastikan apa yang benar atau apa yang sebenarnya terjadi di komunitas adat.

Dokumentasi dengan smartphone digunakan pemuda adat sebagai bukti untuk menyangkal klaim sepihak yang terjadi di wilayah adat.

Smartphone dijadikan pemuda adat sebagai alat perlawanan. Ditambah dengan koneksi internet, menjadi lebih kuat. Karya dokumentasi pemuda adat yang dihasilkan melalui smartphone dapat digunakan sebagai pernyataan sikap dan klaim atas keberadaan komunitas adat. Selain itu, pembuatan dokumentasi melalui smartphone merupakan salah satu cara yang dilakukan pemuda adat untuk menyangkal pemikiran negatif bahwa masyarakat adat terbelakang dan buta teknologi.

Karya yang dihasilkan melalui smartphone juga dibuat untuk mengedukasi dan menginspirasi banyak orang agar lebih peduli terhadap masyarakat adat, alam, dan kehidupan di dalamnya. Inilah yang sudah dan sedang dilakukan pemuda adat di nusantara.

Gagasan mengenai Smartphone Movement tersebut, disampaikan Kalfein Wuisan, Koordinator Publikasi PUKKAT sekaligus Inisiator Smartphone Movement, dalam acara "Live Discussion wih Kalfein Wuisan" yang digelar oleh revolucinema, pada 9 Juli 2021 secara virtual.

Diskusi dengan topik "Smartphone Movement: A Method of Decolonisation by Indigenous Youth", dipandu oleh Surya Shankar, seorang aktivis dan filmmaker Masyarakat Adat dari India. Diskusi yang digelar dalam bahasa Inggris ini, diikuti oleh filmmaker dan aktivis masyarakat adat dari berbagai negara.

Dalam diskusi tersebut, Kalfein juga memaparkan gagasannya terkait Smartphone Movemnet sebagai metode dekolonisasi yang dilakukan oleh pemuda adat.

"Dekolonisasi adalah proses dan pengungkapan serta penghancuran kekuatan kolonial. Ia juga bisa diartikan sebagai upaya untuk bebas dari kolonialisme, baik itu mental kolonial ataupun cara berpikir kolonial yang masih ada hingga kini. Sehingga upaya dekolonisasi membuat kita menjadi sebagaimana adanya kita. Mengembalikan kita ke akar. Lewat karya-karya yang dihasilkan dengan Smartphone, bisa menjadi cara kita untuk menunjukkan, untuk memberitahukan siapa kita, dan mencari tahu siapa kita sebenarnya. Kita bisa bicara secara jujur tentang kita. Kita berbicara tentang kita, langsung dari kita. Kita dapat menghasilkan informasi tentang kita melalui smartphone. Kita dapat menulis, kita dapat mengambil foto, video tentang kita, tentang sejarah kita, budaya kita, langsung dari kita. Selama ini kita atau banyak orang di dunia ini mengkonsumsi segala informasi tentang kita, misalnya sebagai masyarakat adat, dari sumber-sumber kolonial. Menggunakan sumber-sumber yang ditulis kolonial ataupun di zaman kolonial, tentu tidak salah. Tapi kita juga wajib mencari sumber tentang kita yang ditulis oleh orang kita, ataupun kita menuliskan sendiri tentang kita," ucap Kalfein.

Ia juga menuturkan bahwa Smartphone movement menjadi cara untuk membantah stigma negatif yang sudah ada sejak zaman kolonial mengenai masyarakat adat ataupun orang yang tinggal di kampung.

"Banyak orang masih hidup dalam stigma kololialisme kita primitif jika tinggal di desa, masyarakat adat yang buta huruf atau kesenjangan teknologi. Melalui Smartphone Movement kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat adat atau masyarakat yang tinggal di desa sangat melek teknologi, berpikiran terbuka, dan sangat up to date terhadap teknologi. Lewat Smartphone kita juga bisa mengadakan counter terhadapa pemberitaan media yang bias dan yang berpihak pada modal dan kekuasaan" tutur Wuisan.

PUKKAT

Author & Editor

""

0 komentar:

Posting Komentar