Latest Posts
Sabtu, 31 Oktober 2026
Jumat, 21 Agustus 2026
Judul:
Watu Toitou: Batu yang Mengingat, Leluhur yang Menjaga - Jejak Megalitik, Memori dan Identitas Kultural Tou Minahasa
Kepengarangan:
Rikson Childwan Karundeng
Penerbit:
Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT)
Sinopsis:
Watu Toitou mengingatkan bahwa sejarah Minahasa tidak hanya tersimpan dalam tulisan, tetapi juga dalam batu, ruang, lanskap, dan tradisi masyarakat. Toitou bukan sekadar batu berbentuk manusia atau tinggalan megalitik, melainkan representasi manusia yang memiliki hubungan dengan leluhur, komunitas, ruang hidup, alam, ritus, dan Sang Khalik. Maknanya pun beragam, bergantung pada konteks sejarah dan ruang tempat ia berada.
Dalam konteks ini, Watu Toitou dapat dipahami sebagai materialisasi ingatan leluhur. Melalui batu, nama, kisah, jasa, hubungan genealogis, dan nilai-nilai leluhur terus dihadirkan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, Toitou tidak hanya menjadi pengingat masa lalu, tetapi juga mengandung nilai sosial dan etis seperti maesa-esaan, masigi-sigian, maleos-leosan, matombol-tombolan, masawang-sawangan, dan magenang-genangen yang mengajarkan pentingnya hubungan antarmanusia, dengan alam, dan dengan generasi mendatang.
Ukuran Buku:
ix + 247 hlm; 14,8 x 21 cm
Senin, 20 Juli 2026
Tahun 1831, ketika zendeling Johann Friedrich Riedel dan Johann Gottlieb Schwarz pertama kali menapakkan kaki di pegunungan Minahasa, mereka tidak berjalan sendirian. Di samping mereka ada seorang Tou Minahasa bernama Tomalun (Toemaloen). Ia bukan sekadar penunjuk jalan. Ia adalah penerjemah, penghubung dunia, sekaligus orang pertama yang memperkenalkan Minahasa kepada orang-orang Eropa melalui sudut pandang seorang anak negeri. Ia berbicara dalam bahasa Melayu, memahami adat leluhurnya, mengunyah sirih-pinang sebagaimana kebiasaan kaumnya, dan menjelaskan setiap hal yang dijumpai sepanjang perjalanan itu. Ketika Riedel bertanya mengapa rumah-rumah Minahasa dibangun tinggi, Tomalun menjawab bahwa itu dilakukan agar musuh tidak mudah masuk dan membunuh penghuninya. Ketika Riedel mengira orang-orang yang bekerja bersama di kebun adalah budak milik seorang tuan tanah, Tomalun menatapnya tajam lalu berkata, "Tidak ada budak, Tuan, semua orang bebas."
Jawaban Tomalun lebih dari sekadar penjelasan etnografis. Ia sedang memperkenalkan suatu peradaban. Sebuah masyarakat yang memahami kebebasan, mengenal kepemilikan bersama atas tanah, membangun kehidupan kolektif, serta memiliki tata sosial yang berbeda dari dunia kolonial yang datang kemudian. Dalam satu kalimat sederhana, Tomalun menolak cara pandang kolonial yang menganggap setiap masyarakat harus dipahami melalui kategori-kategori Eropa.
Karena itu, Tomalun bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol kesadaran diri Tou Minahasa. Ia mengetahui siapa dirinya, dari mana asalnya, kepada siapa tanah itu diwariskan, dan bagaimana hubungan antara manusia dengan ruang hidupnya dibangun. Identitas itu tidak lahir karena pengakuan pemerintah kolonial, tidak pula karena pemberian negara modern. Identitas tersebut telah ada jauh sebelum semua struktur kekuasaan itu hadir.
Sebagai masyarakat adat, Tou Minahasa mendefinisikan dirinya melalui kesinambungan sejarah dengan leluhur, melalui pakasa'an, walak, wanua, bahasa, adat, hukum, dan kosmologi yang diwariskan turun-temurun. Dalam tradisi Minahasa, manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ia hidup bersama keluarga, komunitas, tanah, hutan, gunung, sungai, laut, dan para leluhur yang membentuk keseluruhan dunia kehidupannya. Hubungan itu tidak semata-mata bersifat ekonomi. Ia adalah hubungan spiritual, sosial, politik, dan moral yang membentuk identitas kolektif.
Karena itu pula, tanah tidak pernah sekadar dipahami sebagai aset. Tanah adalah ruang hidup. Di atasnya terdapat jejak leluhur, sejarah keluarga, tempat kelahiran, kebun yang diwariskan, kubur nenek moyang, batu-batu sakral, mata air, hutan, dan seluruh lanskap budaya yang membentuk keberadaan Tou Minahasa. Kehilangan tanah bukan hanya kehilangan sumber ekonomi. Kehilangan tanah berarti kehilangan ingatan, kehilangan sejarah, kehilangan identitas, bahkan kehilangan masa depan.
Pandangan demikian sejalan dengan perkembangan hukum hak asasi manusia internasional mengenai masyarakat adat. Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak mendefinisikan masyarakat adat semata-mata berdasarkan kategori biologis atau rasial, melainkan berdasarkan kesinambungan sejarah dengan masyarakat pra-kolonial, keterikatan yang kuat terhadap wilayah leluhur, keberadaan sistem sosial dan budaya yang khas, serta tekad untuk mempertahankan identitas dan ruang hidupnya. Dengan demikian, keberadaan masyarakat adat bukanlah hasil pengakuan negara, melainkan suatu realitas historis yang kemudian harus dihormati oleh negara dan setiap pihak lainnya.
Dalam konteks Minahasa, pengakuan terhadap masyarakat adat tidak dapat dipisahkan dari sejarah penguasaan tanah komunal. Tanah kalakeran, hak ulayat wanua, serta berbagai bentuk pengelolaan bersama menunjukkan bahwa hubungan antara Tou Minahasa dan tanah selalu didasarkan pada tanggung jawab kolektif. Tanah diwariskan, dijaga, dimanfaatkan, tetapi tidak dipahami sebagai komoditas yang bebas dipindahkan tanpa mempertimbangkan keberlangsungan komunitas. Intervensi kolonial melalui berbagai kebijakan agraria memang mengubah sebagian sistem tersebut, tetapi tidak pernah menghapus ingatan kolektif mengenai hubungan adat dengan ruang hidupnya.
Oleh sebab itu, hak atas tanah bagi Tou Minahasa bukanlah sekadar hak milik individual. Ia merupakan hak kolektif yang menyatu dengan sejarah, adat, budaya, identitas, dan keberlangsungan masyarakat itu sendiri. Hak tersebut tidak boleh direduksi menjadi persoalan administrasi, investasi, pembangunan, ataupun kepentingan ekonomi semata. Sebab ketika tanah dipisahkan dari sejarahnya, manusia dipisahkan dari dirinya sendiri.
Demikian pula adat dan budaya bukanlah sekadar warisan folklor yang dipertontonkan pada acara seremonial. Adat adalah tata kehidupan. Budaya adalah cara memahami dunia. Sejarah adalah sumber legitimasi keberadaan suatu masyarakat. Ketiganya membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Membatasi hak masyarakat adat atas tanah berarti sekaligus membatasi hak mereka atas sejarah, budaya, keyakinan, dan identitasnya sendiri.
Atas dasar itu, menjaga tanah leluhur bukan hanya hak Tou Minahasa, melainkan kewajiban moral yang diwariskan oleh para pendahulu kepada setiap generasi. Kewajiban tersebut bukan dilandasi oleh kebencian terhadap pihak lain, melainkan oleh tanggung jawab menjaga keberlangsungan kehidupan bersama. Setiap Tou Minahasa memikul amanat untuk memastikan bahwa tanah, adat, bahasa, situs-situs sejarah, ruang budaya, dan seluruh kosmologi Minahasa tetap hidup bagi anak cucu yang akan datang.
Karena itu pula, menyatakan sikap kritis terhadap setiap bentuk ekspansi yang berpotensi mengganggu keberlangsungan ruang hidup masyarakat adat bukanlah tindakan yang bertentangan dengan demokrasi maupun hak asasi manusia. Sebaliknya, sikap tersebut merupakan bagian dari hak masyarakat adat untuk mempertahankan keberadaannya. Penolakan terhadap berbagai bentuk penguasaan ruang yang mengancam keseimbangan sosial, ekologis, historis, maupun kultural adalah ekspresi sah dari hak kolektif masyarakat adat atas wilayah leluhurnya.
Yang ditolak bukanlah keberadaan orang lain sebagai sesama manusia. Yang ditolak adalah setiap upaya yang mengabaikan sejarah, meniadakan persetujuan masyarakat adat, merusak tatanan ruang hidup, atau memaksakan perubahan yang menghilangkan identitas kolektif suatu komunitas. Dalam kerangka hak asasi manusia modern, masyarakat adat memiliki hak untuk mempertahankan wilayah tradisionalnya, hak untuk didengar, hak untuk menyatakan keberatan, dan hak untuk menolak tindakan yang mengancam keberlangsungan warisan leluhurnya.
Tomalun telah mengajarkan hal itu hampir dua abad yang lalu. Dengan sederhana ia mengatakan bahwa di Minahasa tidak ada budak; semua orang bebas. Kebebasan yang dimaksud bukan sekadar bebas bergerak, melainkan kebebasan sebagai suatu masyarakat yang hidup di atas tanahnya sendiri, dengan adatnya sendiri, dan menurut tata kehidupannya sendiri.
Hari ini, semangat Tomalun tetap hidup. Ia hadir setiap kali Tou Minahasa menjaga tanah leluhur, merawat adat, mempertahankan sejarah, melestarikan budaya, dan berdiri menyatakan sikap ketika ruang hidupnya terancam. Sebab hak atas tanah, sejarah, adat, dan budaya bukanlah hak yang dapat diberikan ataupun dicabut oleh siapa pun. Hak itu melekat pada keberadaan Tou Minahasa sebagai masyarakat adat. Menjaganya adalah kewajiban. Mempertahankannya adalah kehormatan. Dan menyatakan penolakan terhadap setiap bentuk ekspansi yang mengancam keberlangsungan warisan tersebut adalah hak yang sah, bermartabat, dan tidak boleh dibatasi. (Denni H. R. Pinontoan)
Senin, 06 Juli 2026
Tomohon — Di sebuah rumah panggung kayu bercat krem bergaya khas Minahasa era 1980-an, percakapan tentang masa depan masyarakat adat mengalir tanpa sekat. Rumah yang menjadi Kantor Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) di Kalutay, Kakaskasen, Tomohon, itu dikelilingi halaman yang dipenuhi aneka tanaman bunga yang tertata rapi, Senin (6/7) berubah menjadi ruang belajar bersama. Para akademisi, aktivis, mahasiswa, dan pegiat kebudayaan duduk melantai, menyimak pemaparan Wensi Fatubun tentang perlunya membincangkan kembali pendekatan dan metode advokasi masyarakat adat.
Minggu, 05 Juli 2026
Dari Gereja Zending ke Gereja Minahasa: Jejak Pelayanan Zendeling Rudolf Bossert Hingga Berdirinya Jemaat GMIM di Tateli, Minahasa
Kepengarangan:
Ivan R.B. Kaunang, Roger A.C. Kembuan, Sientje Suatan
Penerbit:
Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT)
Sinopsis:
Buku ini menelusuri jejak pelayanan zending Protestan di wilayah Tateli, Minahasa, sejak kedatangan para utusan Injil pada abad ke-19 hingga terbentuknya Jemaat GMIM di Tateli. Melalui pendekatan sejarah sosial dan historiografi kritis, penulis merangkai berbagai sumber—arsip, laporan zending, catatan gereja, tradisi lisan, dan dokumen lokal—untuk merekonstruksi perjalanan iman, pergumulan, dan transformasi sosial suatu masyarakat dalam menerima, menghayati, dan mewujudkan Injil dalam konteks budaya Minahasa.
Lebih dari sekadar catatan sejarah gereja, buku ini menghadirkan kisah manusia—para zendeling, tokoh lokal, pelayan jemaat, dan warga biasa—yang bersama-sama membangun komunitas Kristen di Tateli. Dari gereja zending yang kecil dan sederhana, umat bertumbuh, iman berakar, hingga akhirnya menjadi bagian dari Gereja Masehi Injili di Minahasa.
Karya ini bukan hanya penting bagi jemaat Tateli, tetapi juga bagi gereja-gereja lain, para pelajar, mahasiswa, akademisi, dan siapa saja yang ingin memahami bagaimana Injil menjelma dalam sejarah lokal dan membentuk identitas serta peradaban suatu komunitas. Sebuah warisan sejarah yang layak dijaga, dikenang, dan diwariskan.
Ukuran Buku:
xii + 140 hlm; 14 x 21 cm
ISBN: 978-634-96675-1-7
Informasi dan Pemesanan: Email ke pukkat.org@gmail.com
Jumat, 05 Juni 2026
Orang beriman kepada Yang Maha Kuasa secara batiniah, itu hal pribadi. Tapi, ketika dinyatakan secara kolektif, itu hal sosial. Hal memahami keduanya tidak sama.
Kapan saja, di mana saja orang beragama dapat beriman secara batiniah. Tapi, semua agama punya apa yang disebut ritus. Ini kolektif, oleh sebab itu sosial. Tempat ibadah, misalnya ia berdiri di tengah-tengah ruang sosial, apalagi dalam suatu masyarakat majemuk. Oleh sebab itu, pendiriannya butuh pengaturan. Dalam beriman, yang berlaku secara pribadi tidak perlu. Tapi, ketika hal beriman itu diekspresikan secara terbuka, maka itu juga butuh diatur. Kita berdoa dengan suara nyaring dan didengar orang banyak, itu bukan lagi urusan pribadi.
Pada banyak hal, beragama itu adalah sosial. Ada orang lain yang berbeda agama di sekitar kita. Mereka memiliki cara mengekspresikan hal keberimanannya secara berbeda, dan terutama hal memaknai dan menyakini. Pada satu agama pun misalnya Kristen di Minahasa yang bermacam-macam denominasi, ibadah hari Minggu yang relatif waktu yang sama akhirnya bersepakat untuk tidak memakai toa.
Soal agama-agama di ruang sosial, misalnya pendirian tempat ibadah memang butuh pengaturan secara hukum dan administratif. Tapi ini bukan satu-satunya cara. Memakai pendekatan HAM, yaitu kebebasan beragama atau berkeyakinan, juga bukan satu-satunya pendekatan dan metode. Sebab, hak itu dimiliki oleh semua orang dan kelompok.
Ada hak mendirikan tempat ibadah dari satu pihak, tapi ada juga hak dari pihak lain yang tidak boleh dilanggar. Oleh sebab itu, soal ini tidak monolitik. Hak kebebasan beragama atau berkeyakinan tidak boleh pula menjadi ideologi apalagi aksi untuk menekan dan memaksa pihak lain yang memiliki sikap atau pendapat berbeda. Dan, inilah konsekuensi dari hal beragama sebagai praktik sosial.
Oleh sebab itu, dan ini yang saya kira substansial adalah faktor psiko-sosio-kultural yang mesti dipertimbangkan. Pendekatan legal formal, atau HAM adalah dua cara, tapi bukan satu-satunya. Mengapa? Ini terkait dengan konteks masyarakat kita yang beragama lebih banyak aspek sosialnya daripada hal batiniah. Beragama itu harus sosial dan politis dengan macam-macam alasan dan maksud.
Pendekatan psiko-sosio-kultural menempatkan pengalaman keberagamaan dalam relasi dinamis antara individu dan komunitasnya. Dalam banyak masyarakat Indonesia, termasuk di wilayah-wilayah dengan tradisi komunal yang kuat, ekspresi keagamaan selalu terikat pada sensitifitas historis, memori kolektif, serta dinamika identitas kelompok.
Artinya, setiap tindakan keagamaan, termasuk pendirian tempat ibadah—tidak hanya semata sebagai praktik spiritual, tetapi juga sebagai simbol sosial yang dapat memicu rasa aman, curiga, atau bahkan superioritas. Di sini, kebutuhan untuk memahami persepsi, ketakutan, dan harapan yang hidup dalam masyarakat menjadi sangat penting. Kebijakan apa pun yang diambil tanpa membaca lanskap psiko-sosial ini mudah menimbulkan resistensi, karena ia mengabaikan jaringan makna yang telah mengikat cara suatu komunitas memandang “yang lain”.
Karena itu, penyelesaian persoalan keberagamaan di ruang publik memerlukan dialog yang berakar pada kesadaran budaya lokal, bukan sekadar penegakan norma hukum atau penegasan hak-hak abstrak. Pendekatan psiko-sosio-kultural mendorong semua pihak untuk melihat bahwa penerimaan sosial tidak dapat dipaksa oleh regulasi, dan penghormatan terhadap hak tidak dapat ditegakkan tanpa kepekaan terhadap emosi kolektif. Dengan demikian, proses deliberatif—yang mencakup pendidikan publik, perjumpaan antar komunitas, dan upaya membangun kepercayaan—menjadi bagian integral dalam menciptakan ruang sosial yang inklusif. Pendekatan inilah yang memungkinkan setiap ekspresi keberagamaan hadir tanpa mengancam, karena ia ditopang oleh penghormatan timbal balik, pemahaman lintas identitas, serta kesediaan untuk hidup berdampingan secara beradab dalam masyarakat yang majemuk. (Denni Pinontoan)
Jumat, 29 Mei 2026
Di dalam wacana modern tentang hak asasi manusia, toleransi, kerukunan, dan kebebasan beragama, manusia sering dipahami sebagai individu otonom: subjek rasional yang memiliki hak menentukan dirinya sendiri tanpa keterikatan mendasar dengan komunitas, kosmologi, atau ruang spiritual kolektifnya. Dari asumsi inilah lahir berbagai konsep liberal tentang kebebasan. Individu ditempatkan sebagai pusat moral kehidupan sosial. Komunitas hanya dipandang sebagai kontrak sosial yang dapat dinegosiasikan, diubah, bahkan ditinggalkan sesuai kehendak individu.
Namun, apakah manusia sungguh demikian?
Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita berbicara tentang masyarakat adat. Sebab di dalam banyak komunitas adat, manusia tidak pernah dipahami sebagai makhluk yang berdiri sendiri. Ia selalu hadir dalam jaringan relasional: dengan keluarga, dengan kaumnya, dengan leluhur, dengan alam, dan dengan Yang Ilahi. Eksistensi individu memperoleh makna karena komunitas. Sebaliknya, komunitas eksis karena individu-individu yang hidup dan menjaga relasi di dalamnya. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling membentuk secara dialektis.
Di sinilah pentingnya memikirkan kembali hak eksklusif.
Hak eksklusif dalam kerangka masyarakat adat tidak dapat dipahami sekadar sebagai hak istimewa suatu kelompok untuk menutup diri dari pihak luar. Hak eksklusif adalah mekanisme ontologis dan kosmologis untuk menjaga keseimbangan kehidupan bersama. Ia lahir dari kesadaran bahwa kehidupan bukan hanya perkara hubungan antarindividu, tetapi juga hubungan spiritual antara manusia, tanah, alam, leluhur, dan Yang Ilahi. Dalam banyak masyarakat adat, keseimbangan relasi itulah yang memungkinkan kehidupan tetap berlangsung secara harmonis.
Karena itu, hak eksklusif komunitas adat berbeda secara mendasar dari konsep hak dalam liberalisme Barat modern. Dalam liberalisme, hak dipahami terutama sebagai hak individual. Individu dianggap mendahului komunitas. Kebebasan dipahami sebagai kemampuan individu menentukan pilihannya sendiri. Tetapi dalam masyarakat adat, individu tidak pernah mendahului komunitas. Ia dilahirkan, dibentuk, dan dimungkinkan oleh komunitasnya. Kebebasannya tidak berada di luar relasi, melainkan justru hidup di dalam relasi itu.
Pandangan liberal modern sering gagal memahami kenyataan ini. Atas nama toleransi dan kebebasan beragama, masyarakat adat dipaksa menerima konsep universal tentang hak yang sebenarnya lahir dari sejarah sosial Eropa: sejarah sekularisasi, individualisme, kapitalisme, dan rasionalisme modern. Konsep itu kemudian diperlakukan seolah-olah netral dan universal bagi semua masyarakat di dunia. Padahal ia membawa asumsi filosofis tertentu tentang manusia dan kehidupan sosial.
Dalam masyarakat adat, agama bukan sekadar keyakinan privat individu. Ia adalah bagian dari kosmologi komunitas. Relasi dengan Yang Ilahi tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan relasi terhadap leluhur, alam, tanah, ruang hidup, dan tatanan sosial. Karena itu, ketika suatu komunitas adat mempertahankan ruang simbolik dan spiritualnya, yang dipertahankan bukan hanya “budaya”, melainkan keseluruhan struktur kehidupan.
Di titik ini, wacana toleransi modern sering menjadi problematis. Sebab toleransi yang dibangun di atas paradigma liberal cenderung mengabaikan konteks sosio-kultural masyarakat. Ia mengandaikan semua masyarakat tersusun dari individu-individu otonom yang setara dan bebas menentukan pilihan-pilihannya sendiri. Akibatnya, komunitas adat yang mempertahankan hak eksklusifnya sering dicurigai sebagai tidak demokratis, tertutup, bahkan anti-kebebasan.
Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.
Hak eksklusif komunitas adat justru dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan terhadap keberlangsungan tata kehidupan komunal yang selama berabad-abad menjadi dasar eksistensi mereka. Tanpa perlindungan terhadap hak eksklusif itu, komunitas adat mudah dihancurkan oleh kekuatan-kekuatan eksternal yang jauh lebih besar: agama-agama ekspansif, modal, pasar, dan negara modern.
Atas nama kebebasan beragama, misalnya, ruang-ruang adat dapat dibuka bagi penetrasi ideologi keagamaan yang memiliki watak ekspansionis. Atas nama pembangunan dan investasi, tanah adat dapat diambil alih oleh negara dan korporasi. Atas nama rasionalitas modern, relasi spiritual masyarakat dengan alam dianggap takhayul dan tidak produktif. Maka toleransi dan kebebasan, yang secara normatif terdengar mulia, dalam praktik tertentu justru dapat menjadi instrumen penguasaan.
Di sinilah kritik terhadap liberalisme menjadi relevan.
Liberalisme modern sering mengabaikan fakta bahwa relasi kuasa tidak pernah netral. Kebebasan formal yang diberikan kepada semua pihak dalam kenyataannya berlangsung dalam kondisi yang tidak setara. Komunitas adat yang kecil dan terbatas harus berhadapan dengan organisasi keagamaan besar, kekuatan modal, birokrasi negara, dan logika pasar global. Dalam situasi seperti itu, “kebebasan” dapat berubah menjadi jalan masuk bagi dominasi.
Sejarah kolonialisme menunjukkan hal tersebut dengan jelas. Kolonialisme tidak hanya datang dengan kekuatan militer dan ekonomi, tetapi juga dengan rasionalitas modern yang merelatifkan hak eksklusif kaum-kaum lokal. Tanah adat dipandang sebagai objek ekonomi. Hutan menjadi komoditas. Kosmologi lokal dianggap irasional. Relasi spiritual masyarakat dengan alam dihancurkan demi eksploitasi sumber daya.
Kapitalisme modern melanjutkan logika itu. Rasionalisme modern memisahkan manusia dari alam dan dari dimensi spiritual kehidupannya. Alam tidak lagi dipahami sebagai ruang relasional yang sakral, melainkan sebagai objek produksi dan konsumsi. Manusia pun direduksi menjadi individu ekonomi yang bergerak demi kepentingan pribadi.
Negara modern kemudian memperkuat proses tersebut melalui birokratisme, militerisme, dan pembangunisme. Nation-state mengklaim otoritas tertinggi atas wilayah dan kehidupan sosial. Dalam proses itu, komunitas adat sering dipaksa menyesuaikan diri dengan logika administrasi negara. Hak eksklusif mereka dipersempit atau diabaikan demi kepentingan nasional, investasi, dan stabilitas politik.
Akibatnya, masyarakat adat mengalami keterputusan kosmologis. Relasi mereka dengan leluhur, alam, dan Yang Ilahi perlahan dilemahkan oleh logika modernitas. Apa yang sakral dijadikan administratif. Apa yang spiritual dijadikan ekonomi. Apa yang komunal dijadikan individual.
Karena itu, memikirkan kembali hak eksklusif bukan berarti menolak dialog atau hidup bersama dengan pihak lain. Ia juga bukan seruan menuju eksklusivisme absolut. Yang dipersoalkan adalah kecenderungan modern untuk menganggap semua masyarakat harus tunduk pada satu model universal tentang manusia dan kebebasan.
Hak eksklusif komunitas adat perlu diakui justru untuk menjaga pluralitas dunia kehidupan manusia. Sebab manusia tidak hidup hanya dengan hukum dan rasionalitas administratif. Manusia juga hidup dengan simbol, spiritualitas, ingatan leluhur, dan relasi kosmis yang memberinya makna.
Dalam masyarakat adat, musyawarah menjadi mekanisme menjaga keseimbangan itu. Suara komunitas tidak lahir dari otoritarianisme individual, melainkan dari proses relasional antaranggota komunitas. Hukum adat bekerja bukan semata untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan keseimbangan kosmis yang terganggu. Di situ terlihat bahwa komunitas adat memiliki rasionalitas etik dan politiknya sendiri.
Maka persoalan kita hari ini bukan sekadar memperluas kebebasan individual, tetapi juga mempertanyakan: kebebasan untuk siapa, dalam relasi kuasa yang bagaimana, dan dengan konsekuensi apa terhadap keberlangsungan komunitas manusia dan alam?
Barangkali modernitas terlalu lama memandang manusia sebagai individu yang berdiri sendiri. Padahal manusia selalu hidup bersama: dengan sesamanya, dengan alam, dengan leluhur, dan dengan Yang Ilahi. Dan selama relasi-relasi itu masih menjadi dasar kehidupan banyak komunitas di dunia, maka hak eksklusif tetap penting untuk dipikirkan kembali. (dennipinontoan)
Selasa, 30 Desember 2025
Koalisi Advokasi KBB SULUT bersama dengan LBH Manado & PUKKAT menyelenggarakan "Silaturahmi Natal & Refleksi Akhir Tahun" sebagai hajatan tahunan.
Kali ini refleksi diawali dengan pemutaran film dokumenter berjudul "Bhinneka Tunggal Asa", yang diproduksi oleh YLBHI & Watchdog, yang mengangkat kasus-kasus pelanggaran KBB (Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan) di beberapa daerah, seperti kasus LAROMA di SULUT, kasus Ahmadiyah & GKP di Jabar, dan di Kalbar.
Pemutaran film ini adalah pertama kali dilakukan oleh jaringan di daerah setelah di-launching beberapa hari lalu di Jakarta.
Yang menarik juga adalah diskusi yang berlangsung serius membahas pelanggaran-pelanggaran KBB oleh aktor-aktor negara yang biasanya diawali oleh aktor-aktor non-negara yang memakai beberapa rujukan kebijakan negara yang diskriminatif bahkan bertentangan dengan konstitusi - sebagai legitimasi atas aksi-aksi kekerasan & persekusi terhadap kelompok minoritas rentan, serta perusakan rumah-rumah ibadah. Selain itu, dalam refleksi ini, juga ada upaya untuk melakukan pemetaan serta analisis kritis terhadap dominasi kekuasaan, yang ditinjau dari berbagai perspektif untuk ditindaklanjuti dalam kerja-kerja advokasi Koalisi ke depan.
Refleksi ini melibatkan representasi berbagai OMS di SULUT yg kian solid, konsolidatif dan komit dalam mengarusutamakan KBB, yg juga berkelindan dengan isu-isu lain di SULUT, seperti konflik agraria, bisnis ekstraktif, disabilitas, KtP & KtA, SOGIESC, dll.
Pertemuan silaturahmi dan refleksi ini dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai jaringan OMS yang tergabung dalam Koalisi Advokasi KBB SULUT, serta undangan lainnya.
Kehadiran para aktivis yang datang secara bergantian sejak siang hingga malam hari, tidak saja sebagai perjumpaan silaturahim merayakan Natal bersama jaringan komunitas lintas iman. Temu ini juga untuk memperkuat visi bersama & aksi perjuangan gerakan masyarakat sipil bagi keadilan & pemenuhan hak KBB serta penanganan beragam isu interseksi yg juga urgen - sebagai panggilan bersama mewujudkan aksi-aksi nyata gerakan rakyat SULUT bersatu.
Tomohon, 291225
Ruth Ketsia
Sabtu, 12 Juli 2025
Adalah topik yang jadi perhatian dan kajian para mahasiswi/a STFT Jakarta dan UKDW, Yogyakarta, yang sedang melakukan program "Social Immersion" (SI) di PUKKAT. Program ini, yang didukung oleh Kerk in Actie, Belanda, telah keempat kali sejak tahun 2022 diadakan bekerjasama dengan PUKKAT (Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur), Tomohon, SULUT.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang out-put-nya yaitu video yang bercerita tentang TjapTikoes, Laroma dan Kelelondey - tahun ini, hasil akhir yang disyaratkan adalah foto. Setiap peserta memilih tema masing-masing sesuai dgn gambar yang dipotret disertai dengan narasinya.
Topik tentang "Kekristenan dan Kebudayaan Minahasa" tentu sangat luas. Selama tinggal di Tomohon, berinteraksi sambil belajar dan berdiskusi, baik dengan pengurus PUKKAT dan jaringannya, seperti Institut Mapatik dan Mawale Movement (MM) secara keseluruhan, tapi tentu juga dengan masyarakat luas - akhirnya mahasiswi/a sendiri yang menetapkan pilihannya terkait dengan gambar yang akan dipotret. Namun, sebelum turun ke lapangan utk menemukan foto yang pas dan tema yang sesuai, mereka terlebih dahulu dibekali dengan pelatihan menulis dan skil fotografi.Setelah hampir dua bulan (STFT Jakarta dan satu bulan utk UKDW) berproses bersama PUKKAT - para mahasiswi/a kemudian mempresentasikan fotonya masing-masing serta narasi yang sudah disiapkan dalam kegiatan FGD. Temanya beragam, yaitu:
Waruga dan Gereja. Gambar yang diambil adalah bangunan gedung gereja GMIM Sion Woloan, yang di halaman yang sama (bagian depannya) terdapat sebuah "waruga" (kuburan leluhur khas Minahasa). Sebuah perjumpaan yang akomodatif dan sebagai penanda harmonitas atau-kah simbol penaklukan budaya?
Kawasaran. Gambar yang dipotret adl pentas seni tari Kawasaran pada "Festival Budaya" dua dekade MM. Yang menarik dari Kawasaran sebagai warisan seni tradisi Minahasa, walau masih diasosiasikan dengan tradisi peperangan tempoe doeloe, seperti tarian cakalele di beberapa daerah lain - kini mulai ada upaya memaknainya kembali sebagai sebuah spirit yang memberikan kekuatan (daya) positif untuk mampu bertahan berhadapan dengan tantangan dan kerasnya hidup. Aksesoris-aksesoris yang digunakan, seperti santi (pedang) dan tombak, bukan lagi sebagai senjata pemusna dan pembawa kematian melainkan sebagai simbol pembuka jalan bagi keberlangsungan kehidupan. Ini merupakan upaya reklaiming atas tradisi awal leluhur Minahasa.
Perempuan Minahasa. Gambar yang ditampilkan adl seorang perempuan "walian" (imam) yang sedang memimpin ritual adat beberapa waktu lalu di Woloan. Ini menjadi penanda kuat dari warisan kultur Minahasa yang egaliter. Tapi pada sisi lain, konteks hari ini memperlihatkan adanya ketimpangan bahkan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan begitu fenomenal. Ini jelas menunjukkan relasi kuasa yang timpang berakar dalam ideologi patriarki dan dominasi maskulinitas yang begitu kuat.
Pasar Beriman Wilken, Kota Tomohon. Gambar yang dipotret adl gapura pasar yang bertuliskan "Pasar Beriman Wilken". Nama "beriman" adalah akronim dari bersih, indah dan aman adalah nama pertama yang disematkan pada pasar ini. Sementara kata "Wilken" ditambahkan kemudian. Nama ini menunjuk pada nama dari seorang misionaris yang diutus oleh badan zending Belanda (NZG) ke Minahasa menyebarkan agama Kristen dan memperkenalkan pendidikan modern di wilayah Tomohon. Pasar ini terbesar di Sulut. Tapi ia dikenal bukan karena tergolong "terbesar", justru karena sebutan "pasar ekstrem", yang dilekatkan lebih pada kepentingan promosi pariwisata. Padahal yang disebut "pasar ekstrem" itu hanya menunjuk pada bagian kecil saja dari lapak yang berjualan jenis hewan-hewan tertentu yang dianggap "ekstrem", seperti ular, tikus, celeng, kelelawar, dll.
Kegiatan FGD ini sangat membantu para mahasiswi/a utk memperluas wawasan mereka ttg Kekristenan dan Kebudayaan di tanah Minahasa, tapi lebih khusus lagi yakni utk memperkaya narasi dari "foto bercerita" yang dibuat oleh para mahasiswi/a.
Semua foto menarik didiskusikan. Tapi lebih menarik lagi ketika mendiskusikan foto-foto itu dari berbagai angle - ternyata menyimpan misteri berbagai pertarungan politis/ideologis" di dalamnya, tidak sekedar gambar yang tertangkap kamera.
Meski baru pada tahap awal, para mahasiswi/a telah mencoba me"nyelam" sesuai nama program "Social Immersion ke dalam kehidupan Kekristenan dan Kebudayaan Minahasa. Setidaknya para mahasiswi/a yang berasal dari suku yang berbeda dan atau dari etnis Minahasa diaspora telah memperoleh pengetahuan awal dari apa yang mereka lihat dan selami selama melaksanakan program tersebut di PUKKAT.
Pada pihak lain, tema yang diangkat ini juga meninggalkan PR bagi PUKKAT untuk melakukan kajian kritis yang lebih mendalam tentang perjumpaan agama Kristen dan budaya Minahasa. Muncul pertanyaan,mana yang tepat untuk kita: Minahasa Kristen ataukah Kristen (di) Minahasa?
Jangan-jangan ini tantangan kita hari ini, yaitu urgentnya menemukan format baru dari kekristenan yang betul-betul berakar di dalam kultur lokal, bukan sebaliknya, tercerabut darinya.
#cawanasiparukuancawànasipakuruan
Tomohon, 120725
RKW
Senin, 30 Juni 2025
Sabtu, 28 Juni 2025

.jpeg)











































