Diskusi Buku "Aktivisme Agama & Pembangunan yang Memihak: Esai-esai untuk Sulawesi Utara”

Diskusi Seksualitas Dari Perspektif Budaya Minahasa

Sometimes you need advice, Ask a teacher to solve your problems.

Make a Difference with education, and be the best.

Make a Difference with education, and be the best.

Make a Move Together for Better Life

Make a Move Together for Better Life

Latest Posts

Selasa, 18 Juni 2024

Laroma: Intoleransi di Daerah Toleran

Riane Elean

Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta merelease film karya mahasiswa-mahasiswi Social Immersion 2023 yang berpraktek di PUKKAT. Film dokumenter ini berjudul "Laroma: Intoleransi di Daerah Toleran". Film ini merupakan salah satu luaran dari program Social Immersion yang merupakan agenda kolaboratif STFT Jakarta, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta dan Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) sebagai lembaga mitra.

Film ini menayangkan fakta ironis tindak persekusi dan diskriminasi yang dialami para penghayat kepercayaan di daerah yang mendapat penghargaan sebagai Provinsi dengan Indeks Kerukunan Beragama Kategori 10 Provinsi Terbaik, provinsi yang menerima Harmony Award pada 2021 dan 2022 dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Saksikan film dokumenter tersebut pada link Youtube berikut:

Laroma: Intoleransi di Daerah Toleran

Sabtu, 15 Juni 2024

Perampasan Tanah di Minahasa: Perspektif Hukum, Adat, dan Teologi

Riane Elean


Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur gelar diskusi dengan topik "Perampasan Tanah di Minahasa: Perspektif Hukum, Adat dan Teologi', Sabtu 15 Juni 2024 di Kantor PUKKAT Kakaskasen.

Hadir sebagai pemantik Satriano Pangkey (LBH Manado), Ruth Wangkai (Aktivisi PUKKAT), Wulan Rumengan (Peneliti Kelelondey), Fredy Wowor (Budayawan Mawale Movement), dan Frenly Manaroinsong (Komunitas Kelelondey). Sebagai moderator Denni Pinontoan (Ketua PUKKAT).

Kegiatan yang berlangsung hybrid ini dihadiri mahasiswa-mahasiswi Social Immersion 2024 dari Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Jakarta, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, sejumlah budayawan, praktisi hukum, dan akademisi.

Link dokumentasi diskusi dapat dilihat di Halaman Facebook PUKKAT.



Rabu, 01 Mei 2024

Penerbit PUKKAT Anggota IKAPI

Riane Elean

 


Penerbit Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) telah terdaftar sebagai anggota IKAPI, dengan nomor anggota 007/Anggota Luar Biasa/SULUT/2024. Keanggotaan ini - sebagaimana tujuan IKAPI - yakni untuk meningkatkan fungsi dan peran literasi dalam kehidupan publik dan mengembangkan industri penerbitan buku, sebagai upaya untuk berkontribusi aktif dalam pendidikan dan peningkatan peradaban bangsa.


Cek keanggotaan IKAPI di https://www.ikapi.org/anggota-ikapi/

Senin, 01 April 2024

Manguni Simbol Pembebasan

Riane Elean

 


Judul:

Manguni Simbol Pembebasan: Folklore dalam Konstruksi Sosial dan Emansipasi Intelektual-Spiritual di Minahasa

 

Kepengarangan:

Thiosani Frinsly Kaat

 

Penerbit:

Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT)

 

Informasi/ Pemesanan:

pukkat.org@gmail.com

Sinopsis:

Buku ini berisi hasil penelitian yang menganalisis Manguni simbol pembebasan dan folklore (pengetahuan masyarakat) berdasarkan konstruksi masyarakat adat Minahasa. Manguni sebagai paradigma dan simbol pembebasan merupakan ekspresi komunitas masyarakat adat Mawale Movement (gerakan kembali pulang) dan Makatana’ Minahasa (pemilik tanah) untuk menarasikan kembali nilai-nilai kultural yang tertidur karena wacana imajinasi kolonialisme. Lebih dari sepuluh komunitas masyarakat adat yang memakai simbol Manguni, namun kajian pada buku ini berfokus pada Mawale Movement dan Makatana’ Minahasa. Prolegomena yang menjelaskan Manguni sebagai simbol pembebasan dan folklore menjadi instrumen perlawanan masyarakat adat Minahasa untuk memproduksi space-lore (ruang pengetahuan) dengan bebas tanpa intimidasi hegemoni sehingga mencapai stabilitas intelektual-spiritual lewat kebebasan bernarasi/menulis perspektif universal (world view) namun berbasis lokalitas. Eksplanasi kajian ini mencakup pendekatan filosofis-analitis dalam menjelaskan simbol Manguni sebagai bentuk perlawanan masyarakat adat Minahasa untuk memproduksi pengetahuan berbasis kearifan lokal.

Jumat, 15 Maret 2024

Demokrasi dan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB)

Riane Elean

Setiap kali ada kunjungan silaturahmi dari kawan-kawan jaringan ke Wale PUKKAT maka akan didaulat untuk berbagi pengetahuan & pengalaman.

Kali ini kawan-kawan dari Pusat Studi Agama & Demokrasi (PUSAD) Paramadina, Jakarta, yaitu mas Ihsan Ali-Fauzi, mba Ute, & mas Alam menyambangi Wale Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur - Pukkat di Tomohon - setelah beberapa hari berada di Manado. Kedatangan mereka dalam rangka Konsultasi Program dan Asesmen untuk Pelaksanaan Lokalatih Mediasi Lintas Iman di Manado nanti.

Setelah ngobrol-ngobrol santai, dilanjutkan dengan diskusi yang agak serius seputar isu Demokrasi & KBB (Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), serta kerja-kerja advokasi yang telah dilakukan oleh PUSAD beberapa tahun belakangan ini.
Yang menarik dari diskusi sejak kemarin dalam FGD adalah pola pendekatan advokasi yang dikembangkan dalam menciptakan "peace maker" di lapangan adalah melalui pelibatan Pemkot & FKUB sebagai "pintu masuk" dalam pelembagaan mediasi lintas iman di daerah.
Beberapa testimoni tentang penerapan pola ini di beberapa kota tampaknya efektif. Sementara untuk konteks Manado baru akan dicoba-terapkan sebagai langkah strategis dalam mendekatkan lembaga-lembaga negara dimaksud pada komunitas-komunitas akar rumput sebagai SEKUTU dalam mengelola konflik. Artinya, bahwa posisi adalah sama-sama subyek yg setara. Bukan sebaliknya, menggunakan terma "mediasi" atau juga "negosiasi", tapi apa yang terjadi selama ini di lapangan adalah penekanan, pemaksaan, bahkan pembungkaman terhadap kelompok-kelompok marjinal dan rentan.
Tantangan memang nyata. Konflik berbasis KBB ril bahkan fenomenal.
Untuk itu dibutuhkan sinergitas dlm memperkuat gerakan dalam kerja-kerja advokasi mewujudkan keadilan & inklusi sosial.
Seperti kata Gus Dur "perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi". (Ruth Wangkai)

Minggu, 10 Maret 2024

Festival Kuncikan dalam Diskursus Kristen Kultural Minahasa

Riane Elean


Judul: 

Festival Kuncikan dalam Diskursus Kristen Kultural Minahasa: Perspektif Sosiologi, Teologi dan Pendidikan Agama Kristen


Kepengarangan: 

Denni H. R. Pinontoan; Semuel Selanno; Ivan R. B. Kaunang; Meily M. Wagiu


Penerbit: 

Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT)


Informasi dan Pemesanan: 

pukkat.org@gmail.com


Sinopsis: 

Buku in menyajikan suatu hasil kajian yang komprehensif dan lintas ilmu fenomena festival Kuncikan di Minahasa, Sulawesi Utara dan unsur pertunjukan di dalamnya. Meskipun utamanya untuk rekonstruksi teologis dan pedagogis Kristiani, namun studi kami ini juga menggunakan ilmu sejarah, sosiologi dan antropologi. Studi terhadap suatu fenomena sosio-kultural seperti festival Kuncikan, dalam rangka untuk memperoleh suatu pemahaman yang memadai, maka mesti dilakukan secara interdisipliner. Dari hasil kajian yang dilakukan ditemukan dan diungkap nilai-nilai sosio-kultural-religi dari festival Kuncikan tersebut, yang kemudian direkonstruksi secara teologis dan pedagogis Kristen.


Key Words:

Festival dan seni pertunjukan, Kristen dan Budaya, Sosiologi, Teologi, PAK, Kristen Kultural Minahasa

Sabtu, 06 Januari 2024

Reklaim Identitas Tou dan Tana' Minahasa

Riane Elean

Bacirita Awal Taong "Reklaim Identitas Tou dan Tana' Minahasa", Sabtu, 06 Januari 2024 di kantor PUKKAT menegaskan kembali semangat keminahasaan di era kontemporer. Membaca Minahasa, baik di awal tahun 2000-an ketika Mawale Movement mulai mewujud sebagai gerakan kebudayaan, dan di tahun 2024 ini ketika semakin tampak jelas semacam adanya kebangkitan budaya Minahasa dengan beragam cara dan metode, tidak boleh tidak mesti menganalisanya dengan pendekatan geopolitik global dan nasional. 

Sejumlah fenomena yang terjadi tahun 2023 dan tahun-tahun sebelumnya yang berkaitan dengan keminahasaan, membutuhkan suatu pendalaman yang mesti kolaboratif, yaitu melibatkan banyak perspektif, pengalaman dan metode. Pemaparan bung Veldy Reynold Umbas, bung Audy Wuisang mengenai situasi terkini ekonomi negara, dan bersamaan dengan itu tentu adalah politik, lalu penjelasan Fredy Wowor tentang geopolitik Minahasa abad ke-15/16 ketika bangsa-bangsa Eropa mulai merapat ke wilayah ini menegaskan hal yang penting, bahwa Minahasa dan keminahasaan bukanlah sesuatu yang terisolir dari pergerakan global dan nasional. 


Maka dengan itu, peristiwa atau situasi yang terjadi di tana' Minahasa yang memicu pertanyaan-pertanyaan kritis dan reflektif tentang identitas tou dan tana' mesti disikapi dengan pembacaan yang komprehensif. Diskusi kali ini sepakat untuk kembali merevitalisasi arti dan makna "tana", sebagai ruang dan tempat pijakan dalam berbagai dimensinya. Tana' sebagai tempat adalah teritori, sebagai ruang ia mesti dipahami sebagai aktualisasi ide, gagasan, dan praktik politik dan ekonomi. Keduanya penting bagi interpretasi dan rekonstruksi identitas "tou" Minahasa di era disrupsi ini. 

Diskusi yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini, pada akhirnya menegaskan lagi panggilan untuk menjaga dan merawat tana' Minahasa ini dari upaya-upaya desktruksi oleh kuasa-kuasa tertentu. Spirit keminahasan adalah nilai yang mesti direkonstruksi menjadi praksis kebudayaan, yaitu sosio-kultural, politik dan juga ekonomi. Nilai-nilai falsafah Minahasa mesti terus digali dan direkonstruksi untuk menjadi fondasi dalam upaya merumuskan strategi kebudayaan yang makin progresif. 

Selain menghasilkan sejumlah pemikiran yang konstruktif, diskusi yang fasilitasi oleh Mawale Movement dan Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur - Pukkat ini juga semacam forum "bakudapa lintas generasi". Generasi Minahasa yang memikirkan dan melakukan kerja-kerja kebudayaan untuk tou dan tana' ini ternyata terus berlanjut, paling tidak jika dihitung sejak kemunculan Mawale Movement dua dekade lalu. 

------

Terima kasih bung Audy Wuisang, bung Veldy Umbas, bung Sofyan Yosadi, bung Daniel Kaligis, Candra Rooroh, Rikson Karundeng dan komunitas Mapatik, Bodewyn Talumewo, Makatana Minahasa, Rinto Taroreh, dan semua yang telah hadir dan mengambil bagian dalam upaya memikirkan kembali tentang identitas tou dan tana' Minahasa. (Denni)

Senin, 01 Januari 2024

Pentas Budaya Mawolay

Riane Elean


Pentas budaya Mawolay adalah bagian dari seni pertunjukan yg terwariskan dari sejarah kehidupan & tradisi leluhur  masyarakat  Poopo.

Dalam perkembangannya, tradisi ini kemudian menjadi sebuah pertunjukan seni budaya yang khas, unik & satu-satunya yang ada & terpelihara dengan baik hingga hari ini.  

Seni pertunjukan ini secara rutin ditampilkan  dalam pentas budaya "Mawolay", antara lain, pada perayaan Tahun Baru - sebagaimana kami sedang saksikan saat ini di desa Poopo, Kec. Ranoyapo, Kab. Minahasa Selatan.

Kehadiran kami sebagai tim PUKKAT (Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur), yang telah melakukan riset tentang seni tradisi ini, dan mendokumentasikannya dlm buku berjudul "Seni Pertunjukan Wolay" oleh bung Denni Pinontoan - sekaligus juga utk melaunching  & menyerahkannya kepada kepala desa & camat setempat sebagai perwakilan dari masyarakat Poopo.

Sebagai warisan tradisi yg masih terpelihara dgn baik, seni pertunjukan "Wolay" ini ternyata memiliki makna sosio-kultural  yang dalam,  edukatif pun ekologis - yg mesti dipelihara terus dlm merawat harmoni kehidupan di tanah Minahasa khususnya, dan juga dalam rangka pemajuan kebudayaan Indonesia yang majemuk & beragam.

Selamat bersukacita memasuki tahun baru dalam pentas budaya Mawolay.

Poopo, 1 Januari 2024 (Ruth)


Minggu, 31 Desember 2023

Lumales: Menelusuri Jejak Peradaban Tou Minahasa

Riane Elean


Judul: Lumales: Menelusuri Jejak Peradaban Tou Minahasa

Kepengarangan: Rikson Childwan Karundeng

Penerbit: Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT)

Informasi dan Pemesanan: pukkat.org@gmail.com


Sinopsis:

Buku ini berisi reportase perjalanan kegiatan ziarah kultural yang dilaksanakan oleh sejumlah pegiat budaya di tanah Minahasa yang dilakukan semenjak 2010. Ziarah kultural merupakan sebuah penjelajahan untuk mencari, menemukan situs-situs budaya yang masih tersisa di tanah Minahasa, termasuk pendokumentasian tuturan hasil  wawancara dengan para orang tua di kampung-kampung yang memiliki “keistimewaan” sebagai penutur. 


Wale dan Harmoni Kehidupan

Riane Elean


Judul: Wale dan Harmoni Kehidupan

Kepengarangan: Ruth Ketsia Wangkai

Penerbit: Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT)

Informasi dan Pemesanan: pukkat.org@gmail.com


Sinopsis: 

Buku ini berisi dokumentasi dari hasil riset tentang wale atau rumah adat Minahasa, yang masih ada hingga hari ini, walaupun fungsi dan maknanya sebagai rumah adat, yang erat kaitannya dengan ritus-ritus kepercayaan tua Minahasa, tidak tampak lagi. Sebuah realitas yang tidak terhindarkan menjadi fakta riil, bahwa pengaruh Kekristenan yang begitu kuat di tanah Minahasa, yang datang bersamaan dengan peradaban Barat, serta dominasi kapitalisme global, kini hanya meninggalkan jejak dari bentuk wale. Ia bukan lagi rumah adat melainkan sekedar rumah tinggal, yang laris menjadi komoditas dan bisnis “rumah panggung” Minahasa, yang terbuat dari bahan kayu. Tidak mengherankan bentuk rumah panggung ini telah dimodifikasi sesuai kebutuhan dan selera pasar (konsumen), yang berorientasi hanya pada keuntungan pelaku bisnis saja. Walau tinggal jejaknya, pendokumentasian buku ini merupakan sebuah upaya untuk menggali ulang makna wale, fungsi dan bentuknya sebagai rumah adat, warisan leluhur, yang sarat dengan nilai-nilai kosmologis-spiritual-kultural Minahasa. Tentu ada harapan, bahwa dengan menguak kembali nilai-nilai dan kearifan lokal ini, akan dapat menyumbang bagi pemaknaan ulang rumah, yakni tidak sekedar bangunan dan tempat tinggal saja, tetapi wale sebagai ruang bagi harmoni kehidupan antar sesama dan dengan alam sebagai rumah bersama semua makhluk.

Sabtu, 16 Desember 2023

Bertemu Sahabat

Riane Elean

Sore hingga malam, duduk berdiskusi dengan para sahabat di kantor Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat), Kakaskasen, Tomohon. Ivan R B Kaunang, Greenhill Weol, Denni Pinontoan, Ibu Ruth Ketsia, Filo Karundeng, Josua Wajong, dan tak ketinggalan si aktor (agak) tampan, Fredy Wowor. 

Kami (tidak) kebetulan kedatangan kawan lama, Erica Larson. Peneliti asal Boston, Amerika Serikat, tapi tinggal Singapura. Ia bekerja di Asia Research Institute, National University of Singapore. 

Berbagai kisah pun mengalir bersama kopi nikmat racikan Denni. Suasana kian hangat ketika biapong khas Kaki Lokon ikut nimbrung. 

Erica akrab dengan Indonesia, termasuk tanah Minahasa. Seberapa akrab, bisa terlihat dari fasihnya ia bicara menggunakan bahasa Indonesia, bahkan Melayu Manado. Beberapa waktu lalu ia datang meneliti tentang pendidikan kewargaan di sejumlah sekolah di Sulawesi Utara. Hasilnya kini telah ditenteng menjadi buah tangan, "Ethics of Belonging: Education, Religion, and Politics in Manado, Indonesia".

Kali ini, Erica datang masih dengan tujuan yang sama. Topiknya yang berbeda. Ia meneliti tentang bagaimana perspektif mahasiswa soal korupsi. 


Kami berdiskusi panjang dan baru bubar (berganti topik) beberapa saat setelah Kalfein Wuisan tiba. Katanya, Aruy ngambek. Entahlah ... Kata Fredy, pengalaman ini telah menjadi ritual rutin setiap Kale kembali dari perjalanan luar negeri. Heran, dia baru balik dari Dubai, tidur di kamar dengan kasur puluhan juta per malam, tapi agak sulit membayar tambal ban bocor 😜

Saat catatan dan foto di dinding FB ini diupload, kami sedang menunggu ragey dan nasi bungkus yang dijemput Filo. Seperti biasa, kami rukup setiap bersua. Captikus Wuwuk yang datang bersama Kale, jadi teman untuk menanti. (Rikson)

Jumat, 24 November 2023

Jajaki Peluang Kerjasama, ISI Surakarta Sambangi PUKKAT

Riane Elean

ISI Surakarta sambangi PUKKAT, 24 November 2023, di kantor PUKKAT, Jalan Kalutay Kakaskasen Tomohon. Rektor ISI Surakarta Dr. I Nyoman Sukerna, S.Kar., M.Hum, didampingi Dr. Bambang Sunarto, S.Sen., M.Sn. (Wakil Rektor I), Dr. Dra. Tatik Harpawati, M.Sn. (Dekan Fakultas Seni Pertunjukan) bersama rombongan lainnya diterima Ketua PUKKAT Dr. Denni H. R Pinontoan dan tim PUKKAT. Kedua lembaga menjajaki peluang-peluang kerjasama yang akan dilakukan terutama terkait isu-isu pemajuan kebudayaan. 

Demokrasi Deliberatif Orang Laut

Riane Elean

Menikmati aroma kopi robusta bersama rintik hujan sore di Kaki Lokon, terasa sangat nikmat. Apalagi sambil duduk meresapi aliran pengetahuan dari seorang guru. Namanya, Julianus Mojau. Teman-temannya biasa menyapa akrab, Bung Nus. 

Di kalangan intelektual, para teolog, Anak Loloda, Maluku Utara ini sangat dikenal. Apalagi ia pernah menjadi Rektor Universitas Halmahera, pimpinan di Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (Persetia). Ketua Umum PGIW Maluku Utara ini juga sudah beberapa periode berada di kursi pimpinan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). 

Saya mengenal Pak Mojau sejak duduk di bangku kuliah Fakultas Teologi, UKIT. Tidak secara langsung, tapi melalui buah pikiran, karya-karya intelektualnya yang terdokumentasi dalam berbagai buku. Di antaranya: Apa itu Teologi, Bersama Sang Hidup, Meniadakan atau Merangkul: Pergulatan Teologis Protestan dengan Islam Politik di Indonesia, Merawat Wajah Keindonesiaan Allah, Teologi Politik Pemberdayaan, dan Religiositas Kekristenan Halmahera. 

Saya memulai percakapan dengan sebuah cerita yang baru dialami. Tadi pagi, flayer kegiatan dikirim ke beberapa orang. Seorang kawan dari pulau seberang yang kini mengajar pada sebuah kampus di Sulawesi Utara merespons, "Ngoni orang gunung tertarik so mo bicara soal laut?" Ada juga jawaban dari kawan orang Minahasa yang kini sedang menuntaskan studi program doktoralnya, "Adoh, maaf, Mner.  Suka pigi, mar payah lei kwa kita pe pengetahuan soal laut." Mungkin mereka sedikit bergurau (entahlah, soalnya pesan di WA tidak ada nada suara untuk bisa lebih memastikan penilaian itu) saat membalas pesan saya, tapi pernyataan-pernyataan itu seperti jawaban tentang stigma Minahasa "orang gunung saja" benar-benar kuat. Hem  ... 

Sebagai orang yang lagi belajar menulis, saya tentu sangat excited berbincang dengan Pak Mojau. Percakapan kami terus berlanjut di ruang diskusi Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat). Pak Mojau bicara secara khusus topik "Demokrasi Deliberatif Orang Laut". Ia berbagi dengan penuh semangat. Pisau kritisnya masih seperti biasa, tajam. 

Di ujung percakapan, kami bersepakat untuk menuangkan ide-ide dalam diskusi ini lebih serius ke dalam sebuah buku. Kita akan difasilitasi oleh Pukkat untuk mewujudkan rindu itu. Tentu akan senang bisa menulis soal "Lour dan Tou Minahasa". 😇 (Rikson)

Our Team

  • Ruth Kesia WangkaiAktivis-Peneliti
  • Steven Bons ManengkeiPeneliti
  • Marlin WongkarAktivis
  • Denni PinontoanPeneliti
  • Riane EleanPeneliti
  • Putri KapohPeneliti
  • Rikson KarundengPeneliti
  • Kalfein WuisanPeneliti
  • Yonatan KembuanPeneliti
  • Rivo GosalPeneliti
  • Kharisma KuramaPeneliti
  • Greenhill WeolPeneliti
  • Mineshia LesawengenPeneliti
  • Omega PantowPeneliti
  • Leon WilarPeneliti