Sabtu, 31 Desember 2022

Kelahiran A.I. dan Kematian (Kecerdasan) Manusia

Riane Elean

 



PUKKAT menggelar sebuah diskusi hybrid dengan topik "Kelahiran A.I dan Kematian (Kecerdasan) Manusia". Diskusi ini digelar dalam momentum Bakudapa Akhir Tahun Mawale Movement, 30 Desember 2022 di Kantor PUKKAT, Kakaskasen. Hadir dalam kegiatan ini sejumlah akademisi, praktisi hukum, jurnalis, budayawan, aktivis di Tanah Minahasa. 

Diskusi ini membahas tentang masalah-masalah etika, moral dan kultural yang terkait dengan revolusi kecerdasan buatan. Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang mengandalkan komputer untuk memecahkan masalah dan melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh manusia. 

Sejarah A.I dimulai tahun 1950-an, ketika komputer pertama kali dapat menyelesaikan  tugas-tugas yang biasa dilakukan manusia, seperti mengeluarkan keputusan atau mengenali objek. 

Perkembangan A.I saat ini telah berkembang lebih jauh dari itu, dengan komputer yang mampu memecahkan masalah secara otomatis dan mengambil keputusan dengan sendirinya. Dengan demikian A.I membawa banyak manfaat bagi kemajuan teknologi dan industri. Namun di sisi lain, revolusi A.I juga menimbulkan beberapa permasalahan etika seperti menghilangnya lapangan kerja untuk manusia, meningkatnya kejahatan yang dilakukan oleh A.I, serta masalah privasi yang timbul dari penggunaan A.I.

Dalam diskusi kali ini semua yang hadir diundang untuk berpartisipasi aktif dalam membahas permasalahan etika yang terkait dengan A.I, dan memberikan solusi atas masalah tersebut. 

Kamis, 29 Desember 2022

Merayakan Natal di Rumah Baha'i

Riane Elean



SORE ini, cukup cerah. Berbeda dari warna hari-hari penghujung tahun 2022 sebelumnya. Di Rinegetan, Tondano, pada sebuah halaman rumah berlantai beton, berdiri tenda putih sekira 8×10 meter. Puluhan orang duduk di kursi yang tertata rapi, menghadap selatan.

Pohon natal, lilin-lilin, dan berbagai hiasan natal lain, menyemarakkan suasana. Di depan bagian tengah, ada selembar baliho. Paling atas tercetak sebuah lonceng berhias daun dan pita merah. Di bawahnya tertulis, “Begitu kuat cahaya persatuan sehingga dapat menerangi seluruh bumi”. Di bawahnya lagi tertera tulisan dengan huruf yang lebih besar, “Merefleksikan Makna Natal Sebagai Upaya Membangun Kehidupan Bersama Dalam kerukunan dan Keselarasan”.

Di dalam rumah, sajian makanan sudah tersedia di atas meja untuk disantap. Seorang bapak kemudian dipanggil untuk membawakan doa makan. Sebelum mengucapkan doa, ia berkata “Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, mereka yang tidak saudara dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan. Mari berdoa…”

Pemimpin doa itu bernama Asri Rasjid. Seorang Muslim Syiah yang tinggal di Minahasa Utara. Ia salah salah satu dari sekian banyak umat beragam agama yang hadir dalam tenda itu.


Refleksi Natal Bersama

Rabu, 28 Desember 2022, sebuah komunitas yang menamakan diri “Gerakan Cinta Damai Sulut” (GCDS) menggelar sebuah perayaan Natal. Rumah tempat pelaksanaan acara, milik keluarga Agus Basith. Penganut Baha’i yang tinggal di Kelurahan Rinegetan, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa.

Suasana sukacita tergurat jelas dari setiap wajah yang menyatu di tempat itu. Erny Jacob, salah seorang dari keluarga besar GCDS, membacakan Alkitab. Bahan refleksi ini diambil dari kitab Matius 2:1-12. Bagian akhir dari ayat-ayat yang dibacakan merupakan tema untuk perayaan Hari Natal 2022 yang disepakati Pesekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), “Maka Pulanglah Mereka ke Negerinya Melalui Jalan Lain”.

Umat dengan berbagai latar belakang agama yang berbeda, dengan penuh khusyuk memasang lilin. Mereka juga melakukan refleksi bersama tentang Natal Yesus Kristus. Seorang penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diberi kesempatan pertama untuk berefleksi. Sesudah itu, tampil seorang penganut Hindu, kemudian Kristen, Islam, dan Baha’i.

Penggerak GCDS, Pendeta Ruth Wangkai menegaskan, acara ini bagus dan positif karena membangun kehidupan bersama. Ia sangat menikmati “acara syukur lintas iman” sekaligus refleksi Natal sebagai upaya membangun hubungan bersama antar umat beragama.

Ia sendiri ikut merefleksikan bagian Alkitab yang menjadi tema Natal PGI dan KWI, dalam kaitan dengan konteks perayaan ini.

“Ini ‘jalan lain’, bukan mainstream, seperti biasa perayaan Natal dibuat di gereja, oleh sesama orang Kristen, dan sekali-sekali melibatkan denominasi lain. Kali ini berbeda. Ini jalan lain yang dipilih, tidak biasa, dan menurut saya adalah jalan kehidupan,” ucap teolog ini, sembari menjelaskan jika inti ajaran Baha’i memang untuk menyatukan.

Aktivis perempuan yang juga Koordinator Gerakan Perempuan Sulut (GPS) ini merasakan kesejukan, tatkala mendengar refleksi-refleksi dari penganut agama berbeda, yang menyaksikan tentang Tuhan Yang Maha Kasih, yang tidak melakukan kekerasan.

“Ini juga refleksi terhadap fenomena  yang selama ini terjadi, klaim-klaim eksklusif, klaim-klaim kebenaran mutlak. Kenapa sih, perbedaan harus menjadi ancaman, atau jadi sumber konflik?” kata Ruth.

“Ternyata ketika kita bersama-sama, menyanyi bersama-sama, mau berefleksi dari keyakinan yang berbeda, kita boleh menikmati makna kehidupan. Makan bersama, berbagi kisah bersama, tertawa bersama.”


Natal Sebagai Peristiwa Interfaith

Tahun 2016, beberapa orang tengah kongko-kongko, minum kopi, dan makan pisang goreng. Sebuah aktivitas yang biasa mereka lakukan. Kali ini, muncul reaksi keprihatinan atas kondisi yang sedang terjadi di ibu kota Jakarta.

“Dari diskusi itu kita melihat ada sesuatu yang perlu direspons, kaitan dengan apa yang terjadi di ibu kota sana. Kita kemudian sepakat membuat sebuah komunitas dan memberi nama Gerakan Cinta Damai Sulut,” kata Denni Pinontoan, mengawali ucapan terima kasih mewakili GCDS.

Sederet kegiatan yang melibatkan umat berbagai agama berbeda di Sulawesi Utara (Sulut) pun mengiringi kehadiran GCDS sejak tahun 2016, hingga hari ini. Perayaan Natal yang diekspresikan dalam beragam bentuk juga mulai dilakukan sejak itu. Semua yang berinisiatif, mempersiapkan kegiatan, dan yang terlibat secara langsung dalam perayaan Natal, penganut agama yang berbeda.

“Sebenarnya Natal itu sejak awal adalah peristiwa interfaith. Sebuah peristiwa lintas agama. Karena seperti yang kita baca (dalam Alkitab) tadi, ada sekelompok orang majus, mungkin orang-orang bijaksana dari Persia dan mereka itu dari peradaban berbeda tapi juga agama Zoroaster,” ujarnya.

“Kata itu (majus) kemudian berkembang menjadi megician. Yang soal kemudian, kata itu menjadi negatif, diterjemahkan penyihir. Padahal maknanya ‘orang-orang bijaksana’,” sambung Denni.

Akademisi Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado ini menjelaskan, sejak awal, kelahiran Yesus Kristus disambut dengan sukacita oleh para gembala, seorang perempuan (Maria) dan para orang bijaksana (orang majus).

“Entah sejak kapan Yesus itu dikristenkan. Kita harus cari tahu sejarahnya. Karena sudah sejak mulanya Yesus itu adalah tokoh untuk semua,” jelasnya.

Menurut Denni, itulah semangat dan spirit yang membungkus Agus Basith dan keluarganya yang merupakan penganut Baha’i, sehingga mau memaknai, menghayati, merayakan salah satu tokoh besar dari banyak tokoh besar yang telah mengubah peradaban. Dalam hal ini, Yesus Kristus. Semua yang hadir kemudian turut merayakannya bersama-sama.

Fakta, jarang ada yang menerima undangan dari umat beragama lain untuk merayakan Natal. Itu mengapa perayaan Natal di rumah Agus dan keluarga memberi kesan yang sangat mendalam. Sehingga apa yang menjadi makna dari peristiwa Natal, yaitu paling terutama “damai di bumi, damai di surga” bisa dirasakan.

“Paling banyak terjadi kan kita hanya berdoa saja, damai di surga, tapi tidak damai di bumi. Atau hanya damai-damai di surga, tapi kemudian kita tidak punya visi besar untuk damai secara universal. Dengan demikian Natal akan lebih bermakna bagi kita,” tutur Denni yang juga dikenal sebagai Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat).

Semua Umat Adalah Satu

Agus Basith, makawale hajatan istimewa itu bertutur, dalam dirinya ada sebuah keyakinan yang teguh bahwa semua umat adalah satu dan berasal dari sumber yang satu.

“Memang ini menjadi sebuah keyakinan, bahwa kita semuanya ini adalah satu. Jadi kami ini meyakini bahwa semua agama berasal dari satu Tuhan,” kata Agus.

Salah satu ekspresi keyakinan “yang satu” itu, ia dan keluarganya meyakini Yesus secara keseluruhan, termasuk hari raya-Nya.

“Kalau agamamu, agama kami juga. Jadi satu Tuhan. Artinya, kita juga harus merayakan semua hari raya keagamaan,” ujarnya.

Baginya, perayaan secara bersama hari-hari besar keagamaan memang seharusnya. Bukan malah menjadi masalah.

Pada perayaan-perayaan Natal di tahun-tahun sebelumnya, Agus dan keluarga biasanya merayakan bersama-sama dengan umat Kristen yang lain. Mereka hadir di perayaan Natal bersama sahabat, kerabat dan tetangga. Kali ini ia dan keluarga memilih untuk membuat perayaan Natal secara langsung di rumahnya.

“Tahun-tahun sebelumnya, biasanya kalau ada perayaan Natal di lingkungan tempat kami tinggal di Rinegetan, kami terlibat dan membantu apa saja,” ungkap Agus.

Semenjak tinggal di Tondano tahun 2010, Agus selalu merasakan pengalaman hidup bersama yang indah. Ia meyakini, teman-teman di sekitar mereka juga merasakan hal yang sama. Walaupun berbeda, mereka tetap bisa menjaga kesatuan.

“Sebenarnya kesatuan itu bisa dibangun. Jadi kita perlu ada saling interaksi. Artinya, kita tidak hanya istilahnya di kegiatan agama tertentu saja, tapi juga bagaimana terlibat secara langsung dalam kehidupan bersama sehari-hari,” tutur Agus.

Baginya, apa yang dilakukan kali ini merupakan sebuah awal untuk bagaimana bisa menyatukan visi kehidupan bersama yang harmonis. Harapannya, ini akan menjadi lebih ke upaya konkret di lingkungan di mana dia dan mereka yang hadir tinggal.

“Kita bisa bekerja sama bersama orang-orang di sekitar kita,” kata Agus.

Langkah lebih lanjut yang harus dilakukan, menurutnya kegiatan seperti ini bukan hanya untuk orang dewasa tapi bagaimana anak-anak berbeda agama juga bisa dipersatukan dalam seremoni dan kehidupan bersama.

“Kita sudah mulai menanamkan benih-benih rasa satu sejak dini. Rasa saling menghargai harus dibangun sejak dini. Kita sebagai orang tua harus lebih dahulu memulai untuk memberi teladan hidup bagi anak-anak kita,” tegasnya.

Sebuah Keberanian

Sikap yang diekpresikan dan kesaksian Agus Basith, menuai apresiasi dari umat yang hadir. Pengalaman hidup dia bersama keluarganya, benar-benar bisa menjadi teladan bagi umat beragama lainnya.

“Kita harus mengapresiasi keberanian Pak Agus dan keluarganya. Berarti dapat ditarik kesimpulan, umat Baha’i ini biar hanya kecil tapi mampu beradaptasi dengan baik,” kata Jull Takaliuang, aktivis lingkungan yang juga intens melakukan pendampingan terhadap kasus-kasus perempuan dan anak di Sulawesi Utara.

Ia berpendapat, kegiatan ini luar biasa. Sebuah bukti bahwa Agus dan keluarga mampu membangun hubungan harmonis dengan masyarakat lain. Itu terlihat juga dalam acara ini, banyak sekali orang berbagai latar belakang agama yang hadir.  Tetangga-tetangganya juga turut serta menikmati sukacita Natal di tempatnya.

“Sungguh tidak disangka sebelumnya, Natal bisa dirayakan oleh komunitas Baha’i. Kenapa kita kemudian masih sedih melihat fakta (kasus diskriminasi penganut agama tertentu terhadap penganut agama yang lain) di berbagai tempat, termasuk di Boltim Sulawesi Utara. Berarti betapa sangat tertutupnya mata, hati, pikiran dan perasaan bahwa kita di Sulut ini beragam,” ucapnya.

Jull menyaksikan secara langsung keindahan mengagumkan di tempat itu. Ketika umat berbeda keyakinan boleh bersama-sama saling berbagi, saling bertemu, merayakan Natal bersama-sama, tidak ada yang merasa tersakiti. Malah yang terbangun adalah kebahagiaan bersama.

“Kita menumbuhkan kekuatan bersama menghadapi hari-hari ke depan. Entah situasi politik seperti apa, kita akan terhindarkan dari politik identitas ketika kita punya kekuatan yang basic-nya seperti ini, dibangun seperti ini,” kata Jull.

Ketua Yayasan Suara Nurani Minaesa ini mengaku salut untuk keberanian yang luar biasa dari para penganut Baha’i di Sulawesi Utara. “Itu karena mereka sudah punya dasar kenyamanan dengan lingkungannya yang ada di Tondano. Bahkan kini mereka mengundang teman-teman dari luar, dari berbagai agama. Ada Hindu, Islam, penghayat kepercayaan dan penganut agama lain yang hadir. Ini luar biasa.”

Hal yang bisa jadi pelajaran banyak orang dari Agus, paling penting penerimaan luar biasa atas ajaran agama lain. Karena dia kemudian tidak merasa yang satu-satunya benar, yang betul hanya ajaran agama yang diimaninya, tapi kemudian dia menghargai bahwa ada ajaran lain yang sama.

“Itu adalah sebuah kesadaran yang terbangun atas satu dasar, bahwa Tuhan itu satu. Hanya kita menyembah dengan cara yang berbeda, dan itu yang harus diterima,” tegas Jull.

Dalam acara ini Jull betul-betul menikmati pengalaman yang luar biasa. Semua bicara bagaimana menebar kebaikan, menjaga keselarasan, bagaimana membangun kehidupan yang damai.

“Semua orang menginginkan itu. Dan ketika semua mampu menciptakan itu, kita sedang menjalankan ajaran agama masing-masing. Berarti tolak ukurnya satu, berbuat baik saja karena tujuan kita hanya pada satu Tuhan,” kuncinya.


Berbeda Bisa Menyatu

Kegiatan Natal bersama yang diselenggarakan GCDS adalah langkah yang sebetulnya perlu diambil oleh banyak pihak. “Karena kalau diambil banyak pihak, niscaya kerusuhan, perselisihan antar umat yang berbeda keyakinan agama, suku, ras, itu terhindarkan,” kata Iswan Sual, ketua penghayat kepercayaan Lalang Rondor Malesung.

Baginya, momen ini sebetulnya jadi contoh, panutan dari kelompok-kelompok yang toleran. Bukan hanya sekedar tidak berbuat apa-apa, tapi perlu mengambil langkah konkret dalam mewujudkan perdamaian.

Ia rindu, kiranya kegiatan seperti ini boleh menginspirasi anak-anak muda yang di masa mendatang akan menjadi pemimpin. “Paling penting kegiatan lintas iman ini bukan dilakukan oleh golongan elit, tapi memang dari akar rumput. Orang-orang yang memiliki kesadaran untuk menciptakan damai di Sulawesi Utara,” ujarnya.

“Kegiatan ini melibatkan semua penganut kepercayaan. Saya sebagai penganut kepercayaan Lalang Rondor Malesung, sangat bergembira dan berterima kasih, karena diberikan ruang untuk hadir dalam ruang-ruang keberagaman yang luar biasa seperti ini.”

Mardiansyah Usman, Ketua Lesbumi Nahdaltul Ulama (NU) Sulut menyebut, kegiatan model seperti ini sangat spesial karena jarang terjadi. Pertama, yang jadi tuan dan nyonya rumah dari agama Baha’i, sementara konsepnya perayaan Natal.

“Ini jarang terjadi, agama lain mengundang kita lintas agama menghadiri acara semacam ini. Kalau kita lihat, ini bisa dijadikan model sosial baru, khususnya di Sulawesi Utara, untuk mempertahankan kebersamaan dalam keberagaman,” nilainya.

Diakui, di GCDS sebenarnya kegiatan-kegiatan serupa sudah sering dilakukan. Kali ini memang tepatnya di momen Natal, dan kemudian mereka ikut memberikan refleksi dari masing-masing keyakinan.

“Terpenting bagi kita, dengan acara-acara seperti ini bisa saling kenal-mengenal, kemudian kita bisa saling mengetahui. Kalau dulu ada rasa kecurigaan, tapi sekarang ini ketika semua masing-masing memberikan refleksi, kita bisa lebih terbuka dan tahu bahwa ternyata semua kelompok, semua agama itu ingin berdamai,” tandasnya.

Kesan senada dituturkan I Dwi Budi Medhawinata, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Minahasa. Ia melihat suasana acara ini sangat indah. Di sini mereka bisa menyatu walau berbeda agama. Baginya, umat beragama bisa menyatu, membawakan doa bersama, dan saling berbagi bersama dalam kegembiraan adalah Nusantara yang sesungguhnya.

“Mengutip yang pernah dinyatakan Bung Karno, ‘Bagaimana caranya kita menyatukan pikiran-pikiran, golongan-golongan, tanpa kita kuatkan yang bisa menjadi landasan, yang bisa menjadi wadah untuk bersatu’. Kali ini, Pak Agus menjadi wadah kesatuan kita di sini, di Minahasa,” ucapnya.

Bagi Dwi, hidup bersama dalam perbedaan merupakan pengalaman nyata yang dia rasakan di tanah Minahasa. Tanah yang memberikan kenyamanan baginya untuk mengekspresikan keyakinan walau berbeda dengan lainnya.

“Hidup rukun sudah saya rasakan dari kecil di Minahasa. Saya sendiri Hindu tapi bisa beradaptasi, rukun dengan teman-teman sejak masih sekolah SD, SMP, SMA, bahkan di bangku kuliah. Itu sangat membahagiakan,” tutur Dwi yang kini tinggal di Kelurahan Maesa Unima, Tondano.

“Tak ada beban sama sekali. Aura-aura negatif yang membuat kita marah kepada orang lain, itu tidak ada. Di Minahasa, kami hidup enak, tanpa beban.” (Rikson Karundeng)


Sumber:

https://kelung.id/kelung/merayakan-natal-di-rumah-bahai/?amp=1&fbclid=IwAR35RZDw1bZxbPfUUgOYEKJyUusiCFYf0v6q6rHbwQX60DSKlQ45P9V-TAA

Kamis, 22 Desember 2022

Garden Amidst the Flame

Riane Elean



PUKKAT menjadi host pemutaran film "Garden Amidst the Flame" dan diskusi karya Natasha Tontey, seorang seniman visual, desainer grafis dan peneliti, yang telah menghasilkan banyak karya seni yang dipresentasikan di dalam dan luar negeri.

Menurut seniman berdarah Minahasa ini, setelah premier di London serta pameran di Zürich, Den Haag dan Bangkok, akhirnya, Garden Amidst the Flame (2022) pulang ke Tanah Minahasa di Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur - Pukkat.

Pemutaran film dan diskusi yang digelar 21 Desember 2022 di Kantor PUKKAT - Kakaskasen, dihadiri para pemeran dan kru film, sejumlah akademisi, aktivis, jurnalis dan tim PUKKAT.



"Garden Amidst the Flame" adalah kisah masa depan di mana penonton dipandu ke dalam fantasi seorang gadis muda Minahasa dalam struktur waktu non-linear. Perjalanan dimulai dari protagonis muda Virsay mengisi malam dengan mencukur alisnya bersama adik perempuannya dalam tampilan hipermaskulinitas budaya Minahasa yang tidak emosional. Tanpa mengetahui adik perempuannya adalah salah satu anggota tumpukan Kawasaran perempuan yang mempraktikkan pengetahuan kuno, dia menemukan dunia antah berantah dengan kemunculan tiba-tiba fosil hidup, monster Coelacanth, di tempat tidurnya, binatang ayam jago menari di kamarnya saat itu dipenggal oleh kawasaran perempuan, dan situasi fantastis dan absurd lainnya.

Menurut Natasha, Plot "Garden Amidst the Flame" ditulis setelah dirinya berpartisipasi dalam ritual Karai. Pengalaman immaterial yang luhur untuk menggali, mengambil bagian, dan mengamati budaya leluhurnya menginspirasi untuk melahirkan karya ini. Simbol dan mitos diadaptasi dan dibenturkan dengan fiksi dan kritik untuk membangun narasi cerita yang tidak linier. Eksperimen dan penelitian bermutasi menjadi film fantasi. Karya tersebut mengeksplorasi psikologi dari banyak karakter fiksi yang muncul dalam film; protagonis muda utama Virsay, adik perempuannya Mikha, Kakek Yop, monster Coelacanth, monster ayam jago, dan yang terpenting Wulan Lengkoan, tumpukan Kawasaran perempuan. Semua karakter ini berinteraksi satu sama lain untuk memikirkan metode baru perawatan spekulatif, sebagai ide untuk menentang presentasi hipermaskulin budaya ritual Minahasa dan kehidupan sehari-hari.

Film ini disajikan dalam pengaturan instalasi yang menciptakan lingkungan suara, pencahayaan, dan gambar bergerak yang berlapis-lapis.

Menurut Natasha, dia memperluas penelitian artistiknya dalam kosmologi Minahasa, dalam karya filmnya ini. Dia mengembangkan pendekatan queering dalam memahami salah satu upacara ritual utama dalam masyarakat Minahasa, "Karai". "Karai" adalah ritual di mana prajurit Minahasa berpakaian dengan baju besi yang tak terkalahkan untuk membuat mereka kebal terhadap perang suku. Di Minahasa kontemporer, Karai lebih banyak dipahami sebagai ritual hiper-maskulin karena sebagian besar pesertanya adalah laki-laki. Namun, dalam karya ini, berdasarkan penelitian dan pengalamannya, dia menggali ide potensial perawatan spekulatif di Karai. Karena ritual ini terkait erat dengan pengertian tentang pakaian, simbol, dan pakaian, dan mengingat bahwa dalam mitologi kosmos Minahasa bahwa dunia bukanlah tempat bermain yang heteronormatif, Dia mengamati kemungkinan destabilisasi dan rekonfigurasi asumsi Karai dalam hubungannya, untuk gagasan perawatan dan kekebalan bukan agresi dan maskulinitas.

Sejumlah karya Tontey lainnya telah dipresentasikan di Singapore Biennale 2022 (Singapore, 2022), Auto Italia (London, 2022), GHOST;2565 (Bangkok, Thailand, 2022), De Stroom Den Haag (The Hague, 2022), Protozone8; Queer Trust di Shedhalle (Zurich, 2022), transmediale for refusal (Berlin, 2021), Molecular Minds Monstrous Matters di Akademie Schloß-Solitude (2021), Asian Film Archive (Singapore, 2021), Kyoto Experiment (Kyoto, 2021), Polyphonic Social yang di kurasi oleh Liquid Architecture (Melbourne, 2019), Other Futures: Multispecies Experiment (Amsterdam, 2019), dan masih banyak lagi.

Sabtu, 10 Desember 2022

Festival Film Wanua Hentak Tomohon

Riane Elean



Sebuah event ‘tak biasa’ bertajuk ‘Festival Film Wanua’ (FFW), bergulir di Tanah Lumimuut-Toar. Para sineas, komunitas film, pencinta film di Minahasa raya, sejumlah pejabat pemerintah kota Tomohon, hingga masyarakat dari berbagai kalangan usia, bersua di Balai Kelurahan Taratara Dua, Tomohon Barat, 10 Desember 2022, pada event yang diorganisir Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat).

Rangkaian acara pemutaran film, diskusi dan apresiasi bagi para sineas dan komunitas film di Tanah Minahasa ini dipandu Director Komunitas Penulis Mapatik, Rikson Karundeng dan Director Smartphone Movement, Kalfein Wuisan.

Ketua Pukkat, Dr. Denni Pinontoan, M.Teol., mengatakan Festival Film Wanua merupakan rangkaian sejumlah kegiatan. Mulai dari sosialisasi dan pendataan sineas, komunitas film dan karyanya, penulisan buku profil filmmaker dan komunitas film, serta materi karyanya, pemutaran film dan diskusi keliling di enam lokasi berbeda di tanah Minahasa, hingga seminar film yang membahas tentang proses kreatif, isi dan tema film.

“Kita mulai festival ini dari Tomohon. Selanjutnya akan dilaksanakan di SMA Negeri 3 Tondano di Kembuan, Malola Kumelembuay, Wuwuk Tareran, Minanga Pusomaen, dan Laikit Dimembe. Puncak festival, ruang apresiasi dan launching buku akan dilaksanakan pada bulan April 2023 nanti, di Benteng Moraya Tondano,” kata Pinontoan, saat memberikan sambutan di awal kegiatan.

Dijelaskan, Festival Film Wanua yang diorganisir Pukkat ini didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI lewat Program Sinema Mikro dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

“Kegiatan festival film yang ditunjang oleh Kemendikbudristek dan LPDP ini menjadi wadah ekspresi, apresiasi dan edukasi,” ucapnya.


Pinontoan juga menjelaskan kenapa secara spesifik festival film ini diberi tema ‘Festival Film Wanua’. Menurutnya, ‘wanua’ dalam pengertian tradisi orang-orang Minahasa menunjuk pada kampung atau desa, sebagai suatu kesatuan adat yang dialami secara spiritual dan sosial.

“Pada komunitas wanua, tou atau manusia, dan sumber daya alam yang berfungsi secara praktis untuk kehidupan, yaitu dalam bentuk wale atau papan, kan atau pangan dan karai atau sandang, membentuk suatu praktik dan etik. Secara teknis, tema ini menunjuk pada ruang lingkup dan materi film,” paparnya.

Di ujung sambutannya, Pinontoan menyampaikan terima kasih dan apresiasi bagai para sineas, komunitas film dan pemerintah kota Tomohon yang terlibat langsung, dan memberikan dukungan nyata bagi kegiatan ini.

Ketua Panitia Festival Film Wanua, Yonatan Kembuan, M.Teol., menjelaskan lebih lanjut jika Festival Film Wanua ini sebenarnya sudah didahului dengan berbagai publikasi, sosialisasi, dan workshop film, di sejumlah wanua atau roong di Minahasa.

“Sejak bulan Juli 2022, Pukkat sudah mulai dengan publikasi. Bekerja sama dengan Smartphone Movement dan Komunitas Penulis Mapatik, kami juga menggelar workshop film kepada para pemuda dan remaja di kampung-kampung. Itu sekalian sosialisasi, mengajak para filmmaker dan komunitas film di Minahasa untuk bergabung dan membawa karya filmnya, kemudian kita putar dan tonton bersama,” ungkap Kembuan.

Dijelaskan juga, puluhan komunitas film yang sudah mendaftar secara resmi untuk terlibat dalam rangkaian Festival Film Wanua, telah melalui beberapa tahapan. Mulai dari pendaftaran secara langsung ke Pukkat atau melalui website resmi https://festivalfilmwanua.com.

“Jadi, filmmaker dan komunitas yang terlibat, mereka sudah mengisi formulir pendaftaran. Kemudian ada proses kurasi.  Film yang sudah dikirimkan, diseleksi oleh peyelenggara festival berdasarkan kriteria yang ada. Film terpilih yang kemudian diputar dalam roadshow pemutaran film Festival Film Wanua,” papar Kembuan.

Pantauan di lokasi kegiatan, sepanjang acara Festival Film Wanua berlangsung di Balai Kelurahan Taratara Dua, beragam apresiasi mengalir dari sejumlah kalangan yang hadir. Diawali dari Kepala Dinas Pariwisata Daerah Kota Tomohon, Yudhistira Siwu, S.E., M.Si., kemudian Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Tomohon, Sonny Saruan, M.Pd., Lurah Taratara Dua, John Lonta, S.Hut., M.A.P., Ketua Umum Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN), Michelin Salata, serta sejumlah sineas dan penggerak komunitas film di Tanah Minahasa.

Pihak Pemerintah Kota Tomohon dan BPAN, dalam kegiatan ini memastikan akan mendukung, bahkan terlibat bersama dalam upaya mengedukasi, mendorong daya kreativitas masyarakat agar semakin banyak sineas dan komunitas film hadir di Tanah Minahasa, termasuk kota Tomohon. Diyakini, upaya ini sangat positif untuk memberikan dampak positif pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. (*)

Link Pemberitaan Media:

https://kelung.id/kelung/festival-film-wanua-bergulir-apresiasi-mengalir/?amp=1&fbclid=IwAR3uG7HBisp47EIRUXYG2SIbySpYZKXsIIRAbXmld8K5QbjaxOLNNzHLn5c

https://inatara.com/festival-film-wanua-hentak-tomohon/?fbclid=IwAR3WWbdEaMu4IxiW1ybkHG9MJWma68-Jrs6kzf_inIY2AnEeEXeUejszHnE

https://manadoxpress.com/berita-19668-festival-film-wanua-dimulai-pinontoan-ini-wadah-ekspresi-apresiasi-dan-edukasi-.html?fbclid=IwAR2EJnjwnQAS9njjV0nTZaZMx1vCwoQH6c5Ij9HBVZotFaH4p1IRO0R1Css

https://kanalmetro.com/2022/12/11/pukkat-kemendikbudristek-gelar-festival-film-wanua-di-tomohon/?fbclid=IwAR0Kf_4v_7LFiJymIHkvxcPSLqNzxlhuUo7a27HBvj_oU4ryIdhvDXZF4Gk

https://timurtimes.com/2022/12/pukkat-kemendikbudristek-gelar-festival-film-wanua-di-tomohon/?fbclid=IwAR3HAbEmDQkjJTv1rVdHBHRp3fiFSMza4AVfd7uvc0KwR-4LgM_7A_APWlA

http://www.lensasulut.com/2022/12/10/festival-film-wanua-digelar-di-tomohon-oleh-pukkat-dan-kemendikbudristek/?fbclid=IwAR38wv8Bv4D3MvFfWxVk4Ypa_F5jZItgdL1AYhTm3rgP-4hrnRWD5_YlvcQ

https://bacarita.id/2022/12/12/festival-film-wanua-yang-diorganisir-pukkat-kemendikbudristek-banjir-apresiasi/?fbclid=IwAR2o25pyspnXoosei-D4ugvpVUWpOoEdcm-IISCAwp-gKGRbQBeVEe-Q6vA

https://rri.co.id/manado/daerah/109926/diorganisir-pukkat-kemendikbudristek-taratara-jadi-tempat-pertama-bergulirnya-festival-film-wanua?fbclid=IwAR3Fse_QXMTTQfPIbTikZf-N1kBBXBa1Jk0capgZVt0hGmq_dTEVSuEre7Q

Kamis, 01 Desember 2022