Senin, 23 November 2020

Skola Mawale

Riane Elean






Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) dan Institut Seni Budaya Minahasa (Sebumi) menjadi penanggung jawab dalam pelaksanaan Skolah Mawale, yang dilaksanakan 20-22 November 2020 di Wale Papendangan, Talikuran Sonder.

Skolah Mawale kali ini mengangkat tema “Minahasa dalam Narasi Peradaban”. Sekira 15 komunitas dari beberapa penjuru Tanah Minahasa datang belajar di sini. Di tempah dalam ruang-ruang diskusi dengan materi yang padat, sambil belajar tentang filsafat kehidupan saat merebus air di atas “dodika”. 

PUKKAT menjadi salah satu lembaga yang bergiat dalam spirit "Mawale", bersama banyak komunitas lainnya. Skola / Sekolah Mawale merupakan salah satu kegiatan dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan komunitas-komunitas dalam "Mawale Movement", sebuah gerakan budaya Minahasa yang eksis sudah belasan tahun. Beberapa kegiatan lain dalam gerakan bersama ini ialah pentas seni budaya, Ziarah Kultura, bedah buku, Mawale Photography, menerbitkan buku dan majalah, seminar dan diskusi 'Bakudapa Mawale' setiap tanggal 9 di setiap bulan, Advokasi dan perlindungan hukum terhadap masyarakat adat Minahasa, pelestarian situs budaya Minahasa (Waruga, Tumotowa, Watu Tumani, dll), menghadiri undangan kegiatan dari pemerintah dan komunitas serta lembaga swasta, menyelenggarakan Kongres Pemuda Minahasa, dan banyak lagi kegiatan lain yang dilaksanakan di seluruh tanah Minahasa.

Skola Mawale biasanya dilaksanakan setiap tiga bulan atau disesuaikan dengan situasi dan kondisi para penggeraknya. Skola /Sekolah Mawale sudah dilaksanakan sejak tahun 2010. Semua kegiatan dilaksanakan demi menumbuhkan kesadaran ber-Minahasa, bangga sebagai Tou (orang) Minahasa, melakukan penelitian dan pengembangan hingga bersama menjaga tanah, adat budaya Minahasa.

Minggu, 20 September 2020

Pemaknaan Indeks Kerukunan Beragama di Indonesia

Riane Elean

PUKKAT bersama Bee Edu Society (BEST) dan Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan IAIN Manado sukses menggelar webinar nasional bertajuk “Pemaknaan Indeks Kerukunan Beragama: Dilema Hubungan Mayoritas Minoritas di Indonesia, 19 September 2020.

Hadir sebagai narasumber: Ismail Hasani (SETARA Institute), Nia Sjarifuddin (Ketua Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika), Saprillah (Kepala Balitbang Makassar) dan Tantowi Anwari (Manajer Advokasi Serikat Jurnalis untuk Keragaman). Kegiatan ini dimoderatori Pembina PUKKAT Ruth Ketsia Wangkai.

Minggu, 12 Juli 2020

Pengembangan Budaya Minahasa

Riane Elean

 


Dr. Denni Pinontoan, Direktur PUKKAT diundang sebagai pembicara dalam kapasitas sebagai Pegiat Budaya dalam Talk Show Wisata Budaya yang diselenggarakan Kerukunan Keluarga Kawanua, yang dilakukan secara online Sabtu 11 Juli 2020.

Hadir sebagai narasumber lainnya: Dr. Mohammad Amin, S. Sn., M. Sn, MA. (Plt Direktur Industri Kreatif Musik, Seni Pertunjukan dan Penerbitan Kemenparekraf, Beiby Sumanti (Founder Sanggar Bapontar), Prof. Dr. Perry Rumengan (Dosen Musik Universitas Manado, Conductor Composer, Musikolog - Etnomusikolog), dan James Sundah (Komisioner LMKN - Budayawan).

Sabtu, 04 Juli 2020

Merawat Keragaman Identitas dalam Solidaritas Kemanusiaan

Riane Elean

 

PUKKAT menggelar diskusi online bertajuk “Merawat Keragaman identitas dalam Solidaritas Kemanusiaan” pada 3 Juli 2020. Hadir sebagai pemantik diskusi: Wawan Gunawan (Presidium JAKATARUB, Ws. Sofyan Yosan (Dewan Rohaniawan MATAKIN), Debby Momongan (Aktivis Interfaith), Sulaiman Mapiase (Akademisi IAIN Manado), Iswan Sual (Penghayat Malesung/ MLKI Sulut), dan Pdt. Ruth Wangkai (PUKKAT). Acara ini dimoderatori Riane Elean dan Lefrando Gosal.

Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama PUKKAT dengan Institut Seni Budaya Minahasa (Sebumi), Komunitas Penulis Mapatik, Jaringan Kulitinta Independen, Mawale Movement, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Barisan Pemuda Adat Nusantara, dan Kelung.com.

Jumat, 03 Juli 2020

Bincang Online tentang Keragaman Identitas di Masa Pandemi

PUKKAT



Pada negara majemuk seperti Indonesia, identitas agama dan etnis menyimpan kerentanan-kerentanan tertentu. Terutama ketika identitas telah dipolitisasi sedemikian rupa menjadi ideologi eksklusif. Konflik dan kekerasan dapat kapan saja meledak. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, sangat terasa polarisasi antara kelompok-kelompok yang membawa identitas tertentu.

Dalam konteks Sulawesi Utara di masa pandemi ini, justru polarisasi berdasarkan identitas dan agama tersebut muncul dalam bentuk aksi kelompok yang membawa simbol dan emosi identitas agama dan etnis. Pada tanggal 1 Juni, sekelompok orang menolak jenasah yang berstatus PDP dimakamkan dengan protokol Covid-19 yang meninggal di Rumah Sakit Pancaran Kasih Manado. Aksi penolakan maupun reaksi terhadap aksi itu dengan kasat mata menampikan simbol-simbol identitas keagamaan Islam dan Kristen.

Lalu pada tanggal 14 Juni, terjadi perkelahian antar kelompok warga Keluarahan Kampung Jawa Tondano dengan kelompok Kelurahan Marawas. Perkelahian yang terjadi di kebun itu menewaskan seorang warga dari kelurahan Marawas. Kejadian itu dapat dengan mudah direspon secara bias agama dan etnis, karena secara faktual dua kampung tersebut secara jelas berbeda secara agama dan etnis.

Meski kejadian-kejadian ini jelas dipicu bukan oleh sentimen agama dan etnis, tapi rupanya bagi kelompok-kelompok tertentu peristiwa-peristiwa itu lebih mudah direspon secara agamis dan etnis. Mengapa dalam masyarakat kita (Indonesia dan Sulawesi Utara) identitas agama dan etnis dapat dengan mudah dipolitisasi menjadi sikap penolakan atau balas dendam? Mengapa identitas agama dan etnis begitu sensitif dalam relasi-relasi sosial, terlebih politis? Faktor-faktor apa yang menjadi pemicunya?

Untuk membedah masalah kerentanan-kerentanan yang muncul dalam masyarakat majemuk identitas, terutama dalam konteks pandemi, Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT() bekerjsama sama dengan Mawale Cultural Center, Komunitas Mapatik,  Institut SEBUMI, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Utara, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Sulawesi Utara dan Kelung.com menyelenggarakan seri diskusi topik mengenai “Persoalan Keragaman Identitas di Tengah Pandemi”.  

Seri diskusi pertama dilaksanakan dalam bentuk talkshow pada Jumat, 26 Juni 2020, pukul 16.00 – 18.00 via aplikasi Zoom. Sebagai pemantik adalah: 1. Nia Sjarifudin (ANBTI)
2. Pdt. Drs. David Tular (Teolog Gereja Masehi Injili di Minahasa)
3. Rusli Umar (Aktivis NU Sulawesi Utara)
4. Ir. Jhon F. Mailangkay (Brigade Manguni Indonesia Minahasa)
5. Amir Liputo (Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara)
6. Dr. Denni Pinontoan (PUKKAT).

Sebagai moderator Rikson Ch. Karundeng.

(Tayangan siaran diskusi ini dapat diikuti pada halaman Kelung.com.)


Diskusi seri kedua mengangkat topik “Merawat Keragaman Identitas dalam Solidaritas Kemanusiaan” yang dilaksanakan pada Jumat, 3 Juli 2020, jam 18.00 - 21.00 wita via aplikasi zoom. Topik ini diangkat berangkat dari beberapa kasus yang terjadi di tengah pandemi, yang mengusung simbol-simbol agama dan etnis tertentu dan mencoba membedah faktor-faktor kerentanan politisasi identitas di SULUT dan di Indonesia pada umumnya.

Diskusi kali ini menyorot upaya merawat keragaman melalui kerja-kerja interfaith dan aksi-aksi konkrit lintas identitas dari beragam perspektif dan pengalaman.

Para pemantik dalam diskusi ini adalah:
1. Wawan Gunawan M.Ud - Jakatarub, Bandung - Jawa Barat
2. Ws. Sofyan Yosadi, SH. - pengurus nasional MATAKIN, budayawan Tionghoa.
3. Ir. Deeby Momongan, M.Min. - aktivis interfaith.  
4. Sulaiman Mappiasse, Ph.D. - akademisi IAIN Manado  
5. Iswan Sual, S.Pd. - penghayat kepercayaan Malesung dan pengurus MLKI Sulawesi Utara 
6. Ruth Ketsia Wangkai, M.Th. - PUKKAT   

Sebagai moderator Riane Elean dan Rivo Gosal.
(Tayangan diskusi ini dapat diikuti pada halaman Kelung.com)


Virtual Brainstorming "Kosmologi Minahasa & Eko-Teologi"

PUKKAT


Mawale Cultural Center bersama Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT INTIM) Institut Sejarah Budaya Minahasa (SEBUMI) Komunitas Penulis MAPATIK Minahasa Aliansi Masyarakat Adat Minahasa (AMAN) Sulawesi Utara Kelung.com Selasa,19 Mei 2020 14:00 - 17:00 WITA menggelar Virtual Brainstorming  bertajuk "Kosmologi Minahasa & Eko-Teologi". 



Pemantik pada diskusi online melalui aplikasi zoom ini adalah  Tonaas Rinto Taroreh (Praktisi Adat Minahasa); DR. Ivan R B Kaunang (Pakar Cultural Studies UNSRAT); DR. Denni Pinontoan (Teolog Religious Studies); Ruth Ketsia Wangkai MTh (Pegiat Eko-Feminism); Rikson Childwan Karundeng MTeol (Peneliti Cultural Theology); Fredy Wowor MTeol (Peneliti Indigenous Philosophy). Sebagai pengarah diskusi Dave Tielung SAG (mahasiswa Program Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia).  

Selasa, 23 Juni 2020

Pendaftaran Peserta Talkshow “Membedah Kerentanan Politisasi Identitas di Tengah Pandemi”

PUKKAT

Pada negara majemuk seperti Indonesia, identitas agama dan etnis menyimpan kerentanan-kerentanan tertentu. Terutama ketika identitas telah dipolitisasi sedemikian rupa menjadi ideologi eksklusif. Konflik dan kekerasan dapat kapan saja meledak. Dalam kehidupan sosial sehari-hari, sangat terasa polarisasi antara kelompok-kelompok yang membawa identitas tertentu.
Dalam konteks Sulawesi Utara di masa pandemi ini, justru polarisasi berdasarkan identitas dan agama tersebut muncul dalam bentuk aksi kelompok yang membawa simbol dan emosi identitas agama dan etnis. Pada tanggal 1 Juni, sekelompok orang menolak jenasah yang berstatus PDP dimakamkan dengan protokol Covid-19 yang meninggal di Rumah Sakit Pancaran Kasih Manado. Aksi penolakan maupun reaksi terhadap aksi itu dengan kasat mata menampikan simbol-simbol identitas keagamaan Islam dan Kristen. 
Lalu pada tanggal 14 Juni, terjadi perkelahian antar kelompok warga Keluarahan Kampung Jawa Tondano dengan kelompok Kelurahan Marawas. Perkelahian yang terjadi di kebun itu menewaskan seorang warga dari kelurahan Marawas. Kejadian itu dapat dengan mudah direspon secara bias agama dan etnis, karena secara faktual dua kampung tersebut secara jelas berbeda secara agama dan etnis.
Meski kejadian-kejadian ini jelas dipicu bukan oleh sentimen agama dan etnis, tapi rupanya bagi kelompok-kelompok tertentu peristiwa-peristiwa itu lebih mudah direspon secara agamis dan etnis. Mengapa dalam masyarakat kita (Indonesia dan Sulawesi Utara) identitas agama dan etnis dapat dengan mudah dipolitisasi menjadi sikap penolakan atau balas dendam? Mengapa identitas agama dan etnis begitu sensitif dalam relasi-relasi sosial, terlebih politis? Faktor-faktor apa yang menjadi pemicunya?
Untuk membedah masalah kerentanan-kerentanan yang muncul dalam masyarakat majemuk identitas, terutama dalam konteks pandemi, PUKKAT bekerjasama dengan Mawale Movement, SEBUMI, Kelung.com, Mapatik, Jaringan Kulit Tinta Independen menggelar talkshow online bertajuk "Membedah Kerentanan Politisasi Identitas di Tengah Pandemi" dengan menghadirkan para narasumber:

1. Nia Sjarifudin (ANBTI)
2. Pdt. Drs. David Tular (Teolog Gereja Masehi Injili di Minahasa)
3. Rusli Umar (Aktivis NU Sulawesi Utara)
4. Ir. Jhon F. Mailangkay (Brigade Manguni Indonesia Minahasa)
5. Amir Liputo (Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara)
6. Dr. Denni Pinontoan (PUKKAT)

Silahkan mendaftar di link berikut:

Minggu, 21 Juni 2020

Urgensi Hak Kekayaan Intelektual Terhadap Budaya Minahasa

Riane Elean


Direktur PUKKAT, Dr. Denni Pinontoan diundang sebagai narasumber dalam kapasitas sebagai Budayawan Minahasa, pada Talk Show Wisata Budaya. Kegiatan ini mengangkat topik "Urgensi Hak Kekayaan Intelektual Terhadap Budaya Minahasa". Bincang ini dilaksanakan secara online oleh Kerukunan Keluarga Kawanua, Sabtu 20 Juni 2020.

Hadir sebagai pemateri lainnya, Dr. Miranda R. A. Palar (Pakar Perlindungan HKI Komunal) dan James Sundah (Musisi/ Komisioner LMKN).

Jumat, 19 Juni 2020

Merindu Minahasa Lewat Sastra

Riane Elean

 


Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) bersama komunitas-komunitas dalam Mawale Movement: kelung.com., Institut Seni Budaya Minahasa (Sebumi), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sulawesi Utara, Jaringan Kuli Tinta Independen, dan Komunitas penulis Mapatik gelar Bakudapa Virtual: Merindu Minahasa Lewat Sastra, Rabu 17 Juni 2020.

Karya sastra diunjuk secara virtual oleh para perindu: Inggrid Pangkey (Sastrawan, ASN), Denni Pinontoan (Sastrawan, Teolog), Jenry Koraag (Sastrawan, Designer) dan Christofel Manoppo (Sastrawan ASN). Rikson Karundeng dan Lefrando Gosal menjadi pengarah dalam kegiatan ini. 


Senin, 01 Juni 2020

Diskusi Online “New Normal Journalism, Praktek Jurnalisme di Era Pandemi Covid-19”

PUKKAT


Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (PUKKAT) menjadi partner kelung.com dan komunitas Mapatik melaksanakan diskusi bertajuk  “New Normal Journalism, Praktek Jurnalisme di Era Pandemi Covid-19”. Diskusi online ini dilaksanakan pada Kamis, 28 Mei 2020, pukul 15.00 – 17.00 wita dengan menggunakan Zoom.

Tampil sebagai pembicara adalah Andreas Harsono. Dia adalah jurnalis, peneliti dan pembela hak asasi manusia, ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, Yayasan Pantau, dan International Consortium of Investigative Journalists. Dia menulis beberapa buku, antara lain: Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (dengan Budi Setiyono), menulis “Agama” Saya Adalah Jurnalisme, serta buku terbarunya Race, Islam and Power: Ethnic and Religious Violence in Post-Suharto Indonesia.

Sebagai moderator Denni Pinontoan, direktur PUKKAT, Pemimpin Redaksi Kelung.com. Mengawali diskusi, Denni mengemukakan, bahwa pandemi Covid-19 mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan manusia: sosial, politik, ekonomi, agama, tak terkeculi praktek jurnalisme. Jaga jarak dan pembatasan kontak sosial adalah cara berperilaku yang baru. Jurnalis dan media menghadapi suatu realitas baru, yang kemudian membuatnya mesti memikirkan dan menjalankan praktek jurnalisme yang baru pula.

Perubahan ini membuat para jurnalis dan media segera memasuki cara kerja baru berbasis digital. Bagaimana jurnalis dan media menghadapi kebiasaan baru ini? Bagaimana ia menghadapi publik yang juga serba tergantung pada teknologi digital? Bagaimana kebenaran faktual dihadirkan dalam situasi yang baru ini?



Andreas Harsono mengemukakan tiga pokok dalam diskusi tersebut. Pertama, bagaimana jurnalis meliput di masa pandemi covid-19, kedua tantangan perusahaan media, apa yang terjadi dalam dunia jurnalisme, baik sebelum maupun pasca pandemi. Ketiga, tantangan dan peluang jurnalisme pasca pandemi.

Andreas Harsono lalu mengatakan, wartawan mestinya melakukan liputan secara langsung meskipun dalam situasi sulit karena pandemi. Misalnya di ruang ICU yang memang rawan bagi siapa saja terkena virus. Tentu dengan menggunakan alat pelindung diri sesuai standar.

“Wartawan seyogyanya tidak takut dengan Covid-19. Tapi bukan nekat. Harus punya alat pelindung diri,” kata Andreas.

Andreas lalu mengemukakan tantangan perusahaan-perusahaan media menghadapi perkembangan teknologi digital sebelum pandemi covid-19. Beberapa media besar di Indonesia mengalami kesulitan keuangan karena perkembangan new media. Tapi, menurut dia, sekaligus juga ini menjadi peluang bagi media di daerah, asalkan dapat mengembangkan kemampuan para jurnalis menggunakan teknologi digital dan pengembangan manajemen perusanaan media.


Poin penting yang terungkap dalam diskusi ini adalah, jurnalisme, dalam hal visi tidak berubah. Namun, bisnis media selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Menghadapi ‘new normal’ pasca pandemi covid-19, para jurnalis ditantang memasuki suatu perubahan yang besar. Pengembangkan kualitas pengetahuan dan ketrampilan penting bagi para jurnalis untuk era ini.

Sekitar 30-an jurnalis, aktivis dan akademisi dari berbagai daerah se-Indonesia telah bergabung dalam diskusi ini. Para peserta diskusi tampak antusias bertukar pikiran dan pengalaman mengenai jurnalisme di masa pandemi dan masa sesudahnya.(*)  


*Tayangkan diskusi dapat dilihat di sini (Facebook).

Minggu, 31 Mei 2020

Webinar SPEAK UP FOR SOLIDARITY

PUKKAT


Merayakan “The International Day Against Homophobia, Transphobia and Biphobia 2020” Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur” (PUKKAT) bekerjasama dengan kelung.com (majalah online) menyelenggarakan Web Seminar (Webinar) bertajuk "SPEAK UP FOR SOLIDARITY".

Webinar ini dilaksanakan pada Minggu, 17 Mei 2020, pukul 18.00 sampai 20.00 Wita via Zoom.  
Pembicara adalah: Ruth K Wangkai, M.Th (Aktivis PERUATI/PUKKAT); Kheke Carolin (Ketua SALUT/aktivis LGBT Sulut); Denni Pinontoan (Direktur PUKKAT); Shevia Salsabila (Aktivis Transpuan Manado) dan Jonta Saragih (Aktivis Keberagaman & Inklusi Sosial). Moderator: Rajawali Coco.

Webinar ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah, baik aktivis, akademisi dan pegiat dalam kerja-kerja keragaman gender.

Para pembicara dari komunitas LGBT mengemukakan sejumlah persoalan yang mereka hadapi sebagai minoritas gender baik sebelum, terutama ketika terjadi pandemi. Masalah administrasi kependuduk serta bentuk-bentuk diskriminasi lainnya menjadi persoalan bagi kalangan LGBT. Poin penting yang menjadi pokok diskusi adalah pentingnya untuk memperkuat solidaritas yang berbasis kemanusiaan, terutama menghadapi pandemi covid-19 ini.  (*)